kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Tunggu sentimen, investor bisa wait and see saham sektor farmasi


Senin, 24 Februari 2020 / 08:35 WIB
Tunggu sentimen, investor bisa wait and see saham sektor farmasi


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebaran virus Corona dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, punya cara tersendiri untuk membuat saham sektor farmasi masih menarik dilirik tahun ini.

Hanya saja, investor dianjurkan untuk wait and see lebih dulu saat ini, sembari menanti sentimen yang pas untuk bisa masuk ke saham industri farmasi.

Analis OSO Sekuritas, Sukarno Alatas menjelaskan penguatan nilai tukar rupiah yang terjadi sejak akhir tahun lalu dapat menjadi sentimen positif bagi kinerja emiten sektor farmasi tersebut. Hanya saja, dia mengakui dampaknya tidak akan terlalu signifikan.

Baca Juga: Begini dampak penyebaran virus corona menurut bank-bank besar

"Mengingat, pergerakan rupiah masih sangat fluktuaktif dan ada kemungkinan bisa melemah kembali," ungkap Sukarno kepada Kontan, Jumat (21/2).

Apalagi, tren penurunan suku bunga acuan seperti yang baru saja kembali diumumkan Bank Indonesia (BI) dengan memangkas suku bunga acuannya menjadi 4,75%, berpotensi melemahkan rupiah.

Dia menjelaskan, suku bunga rendah berpotensi membuat pergerakan rupiah kembali melemah karena, minat akan rupiah turun dalam jangka pendeknya.

Untuk tahun ini, Sukarno memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bakal bergerak di kisaran Rp 13.930 per dolar AS, yang artinya masih ada peluang bagi mata uang Garuda untuk melemah dari posisi saat ini.

Baca Juga: Cegah perlambatan ekonomi akibat corona, Indef minta investasi digenjot

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah sepanjang 2020 sudah menguat 0,76% di level Rp 13.760 per dolar AS.

Untuk itu, dia menilai penguatan rupiah saat ini belum bisa menjadi patokan bahwa ke depannya kurs masih akan menguat kembali. Nah, ketika harga diproyeksikan kembali melemah, itu akan menjadi tantangan bagi industri farmasi.

Di sisi lain, persebaran virus Corona menjadi sentimen negatif saat ini karena, China menjadi salah satu sumber utama pasokan bahan baku obat.

Sukarno menilai, penyebaran virus corona dikhawatirkan turut berdampak negatif terhadap emiten farmasi akibat terhambatnya pasokan bahan baku dan bakal menjadi tantangan secara industri.

"Tapi di samping itu ada sisi positifnya, permintaan akan produk masker meningkat. Untuk itu, prospek (sektor farmasi) ke depannya masih ada harapan buat kembali pulih," ujarnya.

Baca Juga: Virus corona berpotensi gerus pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020

Adapun untuk emiten seperti PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) diperkirakan tidak akan terlalu terdampak signifikan oleh sentimen negatif Corona.

Ini karena rata-rata bahan baku produksi emiten tersebut cenderung berasal dari domestik, sehingga perusahaan itu bisa mengantisipasi risiko kekurangan bahan baku dengan beralih ke sumber bahan baku lainnya.

Sukarno mengungkapkan, apabila virus Corona cepat diatasi dan tidak lagi menjadi ancaman seharusnya, kinerja sektor farmasi bisa kembali normal seperti biasa. Sehingga, tinggal melihat perkembangan nilai tukar rupiah selanjutnya.

Di samping itu, merebaknya berbagai penyakit secara tidak langsung akan meningkatkan permintaan akan produk-produk dari industri farmasi Tanah Air.

"Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan saat ini juga meningkat, sehingga produk-produk SIDO yang memiliki khasiat menjaga daya tahan tubuh dan menyehatkan, bakal semakin diminati pasar," paparnya.

Untuk itu, Sukarno menilai prospek saham SIDO dan PEHA akan lebih menarik ke depan. Sedangkan untuk KLBF meskipun prospeknya masih menarik, investor dianjurkan untuk menunggu harga turun lebih dulu sampai valuasi dirasa lebih murah dan layak dikoleksi kembali.

Dilihat dari sisi tren pergerakan harga, saham seperti PEHA, KLBF, INAF dan KAEF masih dalam tren penurunan, sehingga disarankan untuk wait and see terlebih dahulu. Meskipun begitu, Sukarno mengakui secara valuasi PEHA sudah cukup murah dibandingkan emiten lainnya.

Sedangkan untuk saham SIDO sudah dalam tren naik sehingga, direkomendasi untuk hold ataupun buy dengan target harga Rp 1.400 per saham.

Mengutip RTI, pada perdagangan Jumat (21/2) saham SIDO ditutup merosot 1,92% ke level Rp 1.275 per saham, sedangkan untuk saham KAEF tercatat anjlok 3,05% ke harga Rp 795 per saham.

Adapun untuk saham KLBF melorot sebanyak 3,87% di level Rp 1.365 per saham. Sedangkan saham PEHA berhasil ditutup di zona hijau atau naik 1,07% di level Rp 945 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×