kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   6.000   0,20%
  • USD/IDR 16.808   25,00   0,15%
  • IDX 8.212   -23,65   -0,29%
  • KOMPAS100 1.154   -4,12   -0,36%
  • LQ45 832   -5,90   -0,70%
  • ISSI 292   -0,22   -0,08%
  • IDX30 440   -3,29   -0,74%
  • IDXHIDIV20 528   -5,77   -1,08%
  • IDX80 128   -0,69   -0,53%
  • IDXV30 143   -1,00   -0,70%
  • IDXQ30 142   -1,40   -0,98%

Trisula Textile (BELL) Pasang Target Tumbuh 8% di 2026, Siapkan Capex Rp 21 Miliar


Jumat, 27 Februari 2026 / 13:42 WIB
Trisula Textile (BELL) Pasang Target Tumbuh 8% di 2026, Siapkan Capex Rp 21 Miliar


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) terus memperkuat posisinya sebagai penyedia kain dan fesyen ritel terintegrasi.

BELL merupakan anak usaha PT Trisula International Tbk (TRIS) yang telah memiliki pengalaman lebih dari 50 tahun di industri tekstil dan garmen.

Dari sisi hulu, BELL berperan sebagai produsen kain berkualitas dengan layanan lengkap, meliputi pemberian tekstur, pelintiran, pemberian kanji, penenunan, pewarnaan hingga penyelesaian akhir. Produk kain ini menyasar kebutuhan pabrik garmen (b2b) maupun pelanggan eceran (b2c).

Baca Juga: Inflasi 10 Tahun Tembus 32%, Begini Strategi Portofolio Agar Return Tak Tergerus

Dari sisi produk, BELL menawarkan beragam jenis kain seperti 100% polyester, polyester rayon, kain dengan fungsi khusus, kain recycle, seragam perusahaan, hingga produk ritel lainnya.

Direktur Utama BELL Karsongno Wongso Djaja menjelaskan, fokus utama BELL berada pada segmen ritel fesyen dan seragam. Untuk lini kain, merek utama yang diusung adalah Caterina dan Bellini. Sementara pada bisnis fesyen ritel, perusahaan mengandalkan merek JOBB dan Jack Nicklaus.

Hingga Desember 2025, jaringan ritel BELL tercatat mencapai 199 gerai, terdiri dari 129 gerai JOBB dan 70 gerai Jack Nicklaus (JN), termasuk gerai yang bekerja sama dengan department store.

Ada pun pada tahun 2026, perusahaan ini berencana menganggarkan belanja modal alias capital expenditure sebesar Rp 21 miliar.

“Alokasi ini mencakup restrukturisasi permesinan, optimalisasi proses, pengembangan dan efisiensi operasional melalui pemanfaatan teknologi yang lebih optimal, peningkatan otomatisasi dan ekspansi retail. Anggaran tersebut juga termasuk capex untuk pembukaan outlet baru retail JOBB dan Jack Nicklaus,” ujar Karsongno dalam paparan publik ekspose beberapa waktu lalu.

Selain itu, BELL juga berupaya memperkuat riset dan pengembangan (R&D) perseroan melalui Trisula Innovation Center (TIC) guna mendorong inovasi yang terintegrasi di sektor tekstil dan garmen.

“Dengan adanya TIC, kami akan memperkuat kolaborasi dengan ekosistem internal perusahaan serta menjalin kerja sama eksternal dengan para pemasok (supplier) untuk mendorong inovasi dalam menghadirkan produk unik dan fungsional yang dapat diterima pasar yang lebih luas,” lanjutnya.

Saat ini, BELL telah memproduksi material daur ulang (recycle), kain tahan api, serta menjadi salah satu pabrik yang memiliki kapabilitas memproduksi kain stretch. Langkah ini menjadi strategi BELL untuk bersaing dengan produk asal China, melalui diferensiasi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Baca Juga: PT PP (PTPP) Catat Nilai Kontrak Baru Rp 2,76 Triliun per Januari 2026

Di segmen ritel, BELL berencana secara rutin meluncurkan produk-produk anyar yang dinilai relevan dengan kebutuhan pasar. Salah satu produk yang akan dirilis oleh BELL tahun ini adalah kain hasil benang daur ulang (recycle).

Produk recycle ini nantinya akan dikhususkan 100% untuk dipasarkan secara ekspor yang diharapkan mampu mendorong pendapatan perseroan dengan lebih signifikan.

Perlu diketahui, pada tahun 2025, 60% penjualan BELL berasal dari pasar ritel, kemudian 26% penjualan berasal dari institusi (pemerintah dan swasta), dan sekitar 6% dari ekspor.

Jika melihat dari sisi keuangan, sejak Januari hingga September 2025, total penjualan BELL tercatat menurun 3,05% secara tahunan dari Rp 426,36 miliar per September 2024 menjadi Rp 413,33 miliar di periode sama tahun 2025.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk BELL pun merosot 40,38% yoy dari Rp 9,20 miliar ke Rp 5,48 miliar.

Meskipun begitu, perseroan optimistis mampu mencetak pertumbuhan sepanjang tahun 2026. Karsongno mengatakan, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 8% secara tahunan untuk tahun 2026.

Untuk mencapai target tersebut, emiten tekstil ini menyiapkan sejumlah strategi utama. Salah satunya yakni dengan modernisasi mesin dengan teknologi yang lebih canggih guna mendorong efisiensi dan meningkatkan produktivitas.

Baca Juga: Aplikasi Kercerdasan Buatan Lokal Hadir, Begini Dampaknya ke Operator Telekomunikasi

Menurutnya, menghadirkan mesin baru memungkinkan pengembangan produk yang lebih berkualitas dan inovatif, sekaligus mendukung efisiensi energi dan peningkatan produktivitas SDM.

Dari sisi operasional, BELL akan melakukan konsolidasi back office untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat struktur biaya dan mendukung kinerja perusahaan secara keseluruhan.

“Konsolidasi back office dan otomasi menjadi bagian dari rencana kerja tahun 2026, sejalan dengan langkah efisiensi dan penguatan R&D. Kami meyakini langkah ini akan meningkatkan EBITDA margin,” bubuhnya.

Tidak kalah penting, BELL akan rutin meluncurkan produk baru di divisi ritel guna memperluas pangsa pasar. Karsongno menekankan, keberhasilan dalam menjaga tren kinerja yang positif mencerminkan strategi perseroan yang adaptif terhadap dinamika, serta menghadirkan solusi tekstil maupun garmen yang selaras dengan kebutuhan pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×