kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.357.000 -0,07%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Tren Surplus Perdagangan Diprediksi Berlanjut, Begini Proyeksi Kinerja IPCC


Minggu, 11 Juni 2023 / 20:06 WIB
Tren Surplus Perdagangan Diprediksi Berlanjut, Begini Proyeksi Kinerja IPCC
ILUSTRASI. Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) menyiapkan strategi untuk memaksimalkan kinerja keuangan di tahun 2023.


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren surplus neraca perdagangan Indonesia di tahun 2023 diperkirakan masih akan berlanjut. Tetapi Indonesia tetap harus mengantisipasi adanya penurunan permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi global. Hal itu pun akan mempengaruhi kinerja emiten pelabuhan di sepanjang tahun ini.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan, tren surplus neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan masih berlanjut selama 2023. Sebagai gambaran, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus pada April 2023.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada April 2023 sebesar US$ 3,94 miliar, lebih tinggi dari Maret 2023 yang sebesar US$ 2,83 miliar. BPS akan merilis angka neraca perdagangan bulan Mei 2023 pada pekan depan.

Nafan mengatakan, neraca dagang bisa surplus dari raihan bulan April 2023. Hal itu didorong oleh perolehan dari perdagangan minyak dan gas.

“Surplus neraca perdagangan berkontribusi penting terhadap resiliensi perekonomian kita di tengah-tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global,” ujar dia kepada Kontan.co.id, Minggu (11/6).

Baca Juga: Pelindo Multi Terminal Catatkan Arus Bongkar Muat Komoditas Curah Cair 7,1 Juta Ton

Investor Relation PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Reza Priyambada mengatakan, pihaknya masih menelaah prospek ekonomi global. Sebab, bisnis IPCC berkaitan dengan bisnis otomotif, termasuk di dalamnya bisnis alat berat. 

“Bisnis kami menjadi bagian dari ekosistem industri keduanya. Ketika kedua industri tersebut terganggu maka bisnis kami pun secara tidak langsung ikut terkena dampaknya,” ujar Reza kepada Kontan.co.id, Jumat (9/6).

Oleh karena itu, jika diasumsikan ekspor kendaraan dari Indonesia mengalami penurunan, maka IPCC berharap kondisi makro ekonomi Indonesia, yang ditandai dengan masih adanya permintaan di masyarakat, dapat terjaga. 

“Dengan terjaganya permintaan akan otomotif di Indonesia maka penanganan kargo kendaraan dari terminal kami menuju sejumlah daerah tujuan maka akan pula menjaga kelangsungan bisnis dari IPCC,” papar Reza.

Sentimen tersebut tentu akan mempengaruhinya jika terjadi penurunan penanganan kargo. Reza bilang, jika terjadi penurunan, sifatnya hanya musiman. Sehingga, di bulan-bulan berikutnya masih ada peluang dan potensi untuk mengejar peningkatan dari penurunan yang terjadi sebelumnya.

Baca Juga: IPCC Menyiapkan Capex Hingga Rp 200 Miliar di Tahun 2024

Reza mengatakan, IPCC menyiapkan strategi untuk memaksimalkan kinerja keuangan di tahun 2023, seperti program Beyond The Gate yang berfokus pada bisnis terkait industri kepelabuhanan.

Terkait ekspansi perusahaan, IPCC akan berfokus pada ekspansi wilayah operasional. Kata Reza, IPCC akan memanfaatkan bergabungnya Pelindo untuk menjajaki wilayah kerja sama operasional di luar wilayah Tanjung Priok. 

Menurut Reza, masih ada beberapa area pelabuhan eks Pelindo 1, 3, dan 4 yang masih bisa dibangun jalinan kerja sama. Misalnya, di Pelindo 1 ada Terminal Belawan. Terminal Belawan sudah dioperasikan oleh IPCC melalui kerja sama dengan beberapa pihak. 

Lalu, di Indonesia bagian timur ada Terminal Makassar yang sebelumnya di bawah Pelindo IV yang kini juga sudah dioperasikan IPCC. Masih ada potensi kerja sama pelabuhan lain sebagai terminal roro maupun terminal kendaraan.

Baca Juga: Lewati Target, Laba IPCC Tumbuh 20% Jadi Rp 42,3 Miliar di Kuartal I-2023

Ekspansi lain yang telah dilakukan IPCC yaitu berupa penyediaan lapangan penumpukan atau parkir di luar wilayah terminal yang saat ini disebut sebagai pre-delivery center.

“Selain itu, IPCC juga tengah menjajaki ekspansi layanan all in atau disebut door to door service, di mana pelayanan dari terminal langsung menuju end user,” papar dia

Reza mengatakan, IPCC mengincar pertumbuhan kinerja sebesar 15%-20% di tahun 2023 ini dari tahun lalu. Target ini dipatok dengan asumsi kondisi ekonomi Indonesia yang juga berimbas pada kondisi industri otomotif mampu mengalami pertumbuhan. 

Sebagai gambaran, IPCC meraih laba tahun berjalan sebesar Rp 42,33 miliar di kuartal I 2023, naik 20,05% secara YoY. Pendapatan IPCC di kuartal I 2023 tercatat Rp 191,15 miliar, naik 27,4% YoY.

Baca Juga: Catat Kinerja Moncer, Begini Rekomendasi Saham Emiten Pelabuhan dari Analis

Nafan pun melihat emiten pelabuhan saat ini kinerja keuangannya masih baik di tengah perlambatan ekonomi dunia yang menghantui.

“Namun, hal itu tetap harus diantisipasi. Mereka harus fokus untuk menjalankan transaksi perdagangan dengan para mitra bisnis sembari melakukan konsolidasi bisnis akibat trade barriers,” kata dia

Nafan merekomendasikan hold untuk saham IPCC dengan target harga Rp 750 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×