Reporter: Dyah Ayu Kusumaningtyas | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Harga obligasi mencatatkan penurunan pada awal minggu setelah libur minggu panjang. Indeks Dealer MArket Associarion ((IDMA), acuan harga obligasi pemerintah, per 9 Maret turun menjadi 110 dari 110,23 di hari sebelumnya.
Penurunan harga obligasi, terutama harga obligasi pemerintah, merupakan refleksi dari sepinya transaksi di pasar sekunder obligasi.
Diambil dari data Penerima Laporan Transaksi Efek (PLTE) di Bursa Efek Indonesia (BEI), per 9 April, dilaporkan nilai perdagangan -baik itu obligasi pemerintah maupun korporasi- hanya mencapai Rp 1,3 triliun dari Rp 2,1 triliun pada akhir pekan.
Corporate Secretary Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Tumpal Sihombing menyampaikan, bahwa jumlah ini merupakan nilai perdagangan terendah sejak awal tahun ini.
Selain itu, frekuensi perdagangan juga mengalami penurunan dari 265 transaksi menjadi 233 transaksi. "Seri FR0058 bertenor 20 tahun, masih menjadi obligasi pemerintah teraktif dengan total volume perdagangan sebesar Rp122 milliar dan 55 kali transaksi," jelas Tumpal, Selasa (10/4).
Sementara, obligasi korporasi teraktif adalah obligasi subordinasi I Bank Sumut Tahun 2011 (BSMT01SB) dengan total volume perdagangan Rp 8 milliar dengan empat kali transaksi. BSMT01SB memiliki TTM 6,24 tahun, fair price 109,5000 dan yield 9,3242% atau 393bps lebih tinggi dari yield SUN tenor 6 tahun.
Tumpal menilai, sepinya aktivitas perdagangan obligasi domestik di awal pekan ini diperkirakan terpengaruh oleh beberapa faktor. Pertama, pasar masih menantikan pengumuman BI Rate hari Kamis (12/4) mendatang yang dapat diharapkan sebagai pendorong sentimen pasar. Kedua, penundaan kenaikan harga BBM telah mendorong ketidakpastian pasar semakin meningkat, ini berimbas pada sikap hati-hati dan wait and see dari para pelaku pasar. Ketiga, data tenaga kerja AS kemarin menunjukkan pelemahan. "Hal ini kembali mendorong spekulasi bahwa ekonomi AS masih rapuh." ujarnya
Tren masih menurun
Dealer Fixed Income Bank Rakyat Indonesia (BRI), Muhammad Ikhsan, mencermati harga obligasi pemerintah semakin turun bukan disebabkan oleh aksi jual, melainkan tidak ada aksi apapun dari pelaku pasar. Selain itu, Ikhsan melihat range antara bid dan over harga di pasar sekunder semakin lebar. "Kondisi ini memperlihatkan marketnya semakin kurang likuid di pasar obligasi," kata Ikhsan, Selasa (10/4).
Selain itu, data inflasi Maret yang naik juga menjadi pendorong yield untuk naik sehingga ikut melorotkan harga obligasi. Kata Ikhsan, pada Maret tahun 2011 lalu, malah terjadi deflasi. Oleh karena itu inflasi yang sebesar 3,97 (year on year) menjadi pertimbangan investor untuk menahan dananya terlebih dahulu.
Ikhsan juga meramal, pasar obligasi masih akan sepi dalam jangka pendek, kecuali ada gebrakan terbaru dari pemeringkat S&P untuk memberikan predikat investment grade kepada Indonesia. "Saya yakin, setelah investment grade diberikan oleh S&P, pasar obligasi akan reli lagi," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













