kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Tower Bersama Infrastructure (TBIG) bukukan pendapatan Rp 4,7 triliun pada 2019


Jumat, 27 Maret 2020 / 17:00 WIB
ILUSTRASI. Pekerja melakukan pengecekan jaringan kabel optik di menara milik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu (18/9/2019). Tower Bersama Infrastructure (TBIG) bukukan pendapatan Rp 4,7 triliun pada 2019. ANT


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan menara telekomunikasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) membukukan pendapatan Rp 4,7 triliun pada 2019. Jumlah ini naik 8,81% dibanding pendapatan tahun 2018 yang sebesar Rp 4,32 triliun. Seluruh pendapatan ini berasal dari bisnis sewa menara telekomunikasi dan properti investasi.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat (27/3), perusahaan dengan porsi sewa terbesar masih dipegang oleh PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), yakni mencapai Rp 2,01 triliun atau 43% dari total pendapatan TBIG 2019. Disusul oleh PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar Rp 1,01 triliun (22%), PT XL Axiata Tbk (EXCL) Rp 844,42 miliar (18%), PT  Hutchison 3 Indonesia Rp 526,68 miliar (11%), dan PT Smartfren Telecom Rp 264,8 miliar (6%). 

Baca Juga: Ada pembebasan impor, Sentra Food (FOOD) berharap harga bawang bombai segera turun

Sementara itu, apabila dilihat dari peningkatan jumlah sewanya, maka PT Hutchison 3 Indonesia yang berada di posisi teratas. Nilai sewa perusahaan ini tumbuh 35,77% year on year (yoy), dari Rp 387,92 miliar pada 2018 menjadi Rp 526,68 miliar. Disusul oleh XL Axiata yang nilai penyewaannya naik 24,21% yoy, dari Rp 679,8 miliar menjadi Rp 844,42 miliar. 

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, TBIG juga mencatatkan kinerja positif pada bottom line-nya. Laba bersih TBIG pada 2019 meningkat 20,41% yoy menjadi Rp 819,45 miliar. Padahal, pada 2018, laba bersih TBIG baru sebesar Rp 680,58 miliar. 

Sebagai catatan, beban pokok penjualan TBIG pada 2019 meningkat 15,22% yoy menjadi Rp 903,45 miliar. Lalu, beban usaha naik 11,79% yoy ke Rp  426,43 miliar. Sementara itu, beban lain-lain hanya bertambah 0,5% menjadi Rp 2,15 triliun. 

Baca Juga: Sepanjang 2019, Duta Pertiwi (DUTI) berhasil bukukan laba bersih Rp 1,1 triliun

Adapun aset TBIG per akhir 2019 mencapai Rp 30,87 triliun atau naik 6,04% secara tahunan. Ini sejalan dengan utang TBIG yang berkurang 0,34% yoy menjadi Rp 25,35 triliun dan ekuitas yang melesat 50,11% yoy menjadi Rp 5,52 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×