Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga Bitcoin hingga mendekati US$ 75.000 pada awal pekan ini menegaskan pergeseran peran kripto dalam ekonomi global.
Kenaikan tajam tersebut dipicu kombinasi tekanan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan tak biasa Iran yang mewajibkan pembayaran “tol” kapal tanker menggunakan Bitcoin di Selat Hormuz.
Harga Bitcoin tercatat naik sekitar 6% pada Senin (13/4/2026), didorong fenomena short squeeze besar-besaran setelah Amerika Serikat memblokade jalur pelayaran strategis tersebut.
Respons Iran dengan menetapkan tarif setara US$ 1 per barel dalam bentuk Bitcoin langsung menciptakan permintaan instan terhadap aset kripto.
Baca Juga: Tekanan Geopolitik Timur Tengah Picu Koreksi Harga Kripto
Kebijakan ini tak hanya menjaga kelancaran transaksi di tengah sanksi internasional, tetapi juga menunjukkan bagaimana teknologi blockchain mulai dimanfaatkan sebagai alternatif sistem keuangan global di luar jangkauan otoritas tradisional.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai lonjakan ini mencerminkan perubahan fundamental dalam cara pasar memandang kripto.
"Kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai di tengah tekanan global," ujarnya dalam siaran pers, Rabu (15/4/2026).
Selain faktor geopolitik, tekanan inflasi di Amerika Serikat turut memperkuat reli. Data inflasi (CPI) yang naik ke 3,3% pada April memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kenaikan harga berkepanjangan.
Kondisi ini mendorong investor mengalihkan dana ke aset alternatif seperti bitcoin, memperkuat narasi sebagai safe haven di tengah pelemahan nilai mata uang konvensional.
Baca Juga: Harga Kripto Berfluktuasi, Prospek Industri Kripto di Indonesia Tetap Kuat
Dari sisi likuiditas, arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot juga menopang kenaikan. Sepanjang Maret hingga April, inflow tercatat mencapai sekitar US$1,94 miliar, memperkuat struktur harga dan menjaga momentum positif dalam jangka pendek.
Sentimen ini merambat ke pasar kripto secara luas. Ethereum melonjak sekitar 8% ke US$2.380, Solana naik 5,2% ke US$ 86,60, dan BNB menguat 3,2% ke level US$ 615,50.
Menurut Antony, perkembangan ini menandai fase baru dalam adopsi kripto. “Peran kripto kini meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional,” katanya.
Meski tren menguat, volatilitas tetap menjadi risiko utama. Faktor jangka pendek seperti rilis data ekonomi Amerika Serikat, kebutuhan likuiditas pasar, hingga arah kebijakan moneter masih berpotensi memicu fluktuasi harga. Investor pun diimbau tetap mengedepankan manajemen risiko.
Baca Juga: Ada 19,08 Juta Investor Kripto, Indonesia Jadi Rebutan Exchanger Global di 2026
Secara historis, April dikenal sebagai bulan positif bagi Bitcoin. Namun tahun ini, pergerakan harga lebih banyak dipengaruhi dinamika geopolitik dan makroekonomi global. Hingga kuartal II 2026, Bitcoin tercatat menguat sekitar 8,64%.
Fenomena “tol Bitcoin” ini menjadi penanda penting: kripto tak lagi sekadar instrumen spekulatif, melainkan mulai memainkan peran nyata dalam arsitektur ekonomi global yang terus berubah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













