Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli
Serta perluasan kapasitas pabrik CIL ke-1 di Citra Palu Mineral dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari yang ditargetkan selesai pada Oktober 2026.
“Kami memproyeksikan produksi emas BRMS secara keseluruhan mencapai 76 ribu ons (koz), naik 6,1% secara year on year (YoY) pada 2026,” ujar Ashalia saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026).
Selain itu, proyek penambangan bawah tanah yang ditargetkan selesai pada kuartal III – 2027, yang diharapkan menghasilkan kadar emas yang lebih tinggi yaitu 3,5 gram – 4,9 gram per ton, serta potensi eksplorasi dari Gorontalo Minerals juga bisa menjadi katalis pendorong BRMS.
Adapun proyek tambang Gorontalo Minerals saat ini melakukan pengeboran di Cabang Kiri Timur dengan tiga rig, dengan rencana untuk memperluas menjadi enam rig di seluruh Cabang Kiri Timur, Punggung Utara, dan Punggung Selatan pada akhir tahun fiskal 2026.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi Tajam, Cek Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas (4/6)
Ini bersamaan dengan pembaruan sumber daya dan cadangan emas dan tembaga yang sesuai dengan standar JORC yang diharapkan pada awal tahun fiskal 2027.
Berikutnya, katalis pendorong kinerja BRMS berasal dari eksplorasi berkelanjutan di aset lain, termasuk Suma Heksa Sinergi (SHS), Linge Mineral Resource (LMR), dan Dairi Prima Mineral (DPM), untuk lebih memperkuat profil pertumbuhan multi-aset BRMS.
Ashalia memproyeksi pendapatan dan laba bersih BRMS tahun 2026 masing – masing US$ 365 juta dan US$ 92 juta. Adapun pada tahun 2025 BRMS mengantongi pendapatan US$ 249 juta dan laba bersih US$ 50 juta.
Ashalia dan Rizal merekomendasikan buy saham BRMS dengan target harga masing – masing Rp 1.060 per saham dan Rp 1.300 per saham. Sedangkan Igor merekomendasikan netral saham BRMS dengan target harga Rp 1.200 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













