Reporter: Arvin Nugroho | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski penyebaran wabah virus corona telah masuk ke Indonesia. Emiten perbankan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) masih optimistis kinerja sepanjang tahun 2020 akan tumbuh di dua digit.
Pada tahun 2019, BJBR mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,56 triliun dengan pertumbuhan 0,8% (yoy). Angka itu hanya naik sedikit dibanding tahun 2018 yang jumlahnya sebesar Rp 1,55 triliun. Meski demikian, Analis RHB Sekuritas Ghibran Al Imran menilai angka itu masih sesuai dengan ekspetasi para analis.
Hal itu tak terlepas dari laba bersih yang dicetak BJBR pada kuartal IV yang menembus proyeksi Ghibran. BJBR mampu mendapat laba bersih sebesar Rp 429 miliar atau tumbuh 105,3% secara yoy. Angka itu lebih tinggi dibanding proyeksi Ghibran yang mencatat hanya akan tumbuh sebesar 104%.
Pertumbuhan yang naik cukup signifikan di kuartal IV tidak terlepas dari Net Interest Income (NII) yang mencatat pertumbuhan 8,9% (qoq).
Baca Juga: Bank BJB antisipasi pelemahan kredit akibat virus corona
Sebabnya, BJBR mampu mengatasi suku bunga yang sempat mengalami peningkatan. “Sudah diperkirakan bahwa kondisi BJBR di tahun 2019 tidak terlalu baik,” kata Ghibran.
Meski begitu, di tahun 2020, BJBR diharapkan dapat melakukan turn-around setelah menjalani periode yang tak mengesankan di tahun 2019. Itu tak terlepas dari kondisi fundamental BJBR yang relatif cukup stabil.
Sejak kuartal II 2019, Net Interest Margin (NIM) BJBR terus menunjukkan indikasi yang stabil sebesar 5,7%. Setelah sempat terkompres di awal tahun 2019 di angka 5,7%, lebih besar dibanding FY2018 sebesar 6,4%.
Ghibran mengatakan NIM yang stabil itu menjadi modal BJBR untuk melewati tahun 2020 sehingga kemungkinan Cost of Fund (CoF) naik juga mengecil.
Apalagi, BJBR melakukan write-off di akhir tahun 2019 lalu. Imbasnya, Non Performing Loan (NPL) pun ikut turun di level 1,6% dari yang sebelumnya berada di level 1,8% di kuartal III 2019. BJBR juga telah menurunkan deposit rate dari 9% menjadi 6,25 – 6,75%.
Selain itu, dengan adanya penyesuaian IFRS 9 sebesar Rp 651 triliun, BJBR menargetkan cadangan kerugian penilain nilai (CKPN) 2020 berada di level 102% dari sebelumnya yang hanya sebesar 53%. “Kalau tidak ada NPL lagi yang nambah, seharusnya prospeknya bagus,” tambah Ghibran.
Baca Juga: Amankan likuiditas, Bank BJB terbitkan obligasi berkelanjutan Rp 1 triliun
Tahun ini, BJBR menargetkan penyaluran kredit sebesar 10%. Setelah pada 2019, BJBR mampu mencatat penyaluran kredit sebesar 8,7% di Rp 81,8 triliun. Angka itu ditopang dari segmen konsumer yang mampu menyalurkan Rp 56,30 triliun dengan pertumbuhan sebesar 9,2%. Segmen konsumer di tahun 2020 masih akan menjadi tumpuan BJBR.
Mendengar hal itu, Ghibran menilai angka 10% terbilang cukup susah untuk diraih oleh BJBR. Namun, angka 8 – 9% dinilai optimistis untuk dicapai BJBR. Pasalnya, secara keseluruhan indeks loan demand masih cenderung lemah.
Sementara Analis Maybank Kim Eng Rahmi Marina dalam risetnya 13 Februari 2020 memproyeksikan penyaluran kredit BJBR di tahun 2020 sebesar 9% dengan catatan mampu mencatat 50bps untuk CoF.
Di sisi lain, Analis Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas mewanti-wanti perkembangan virus corona di Indonesia dapat menghambat laju pertumbuhan BJBR tahun ini. Data per Selasa (3/3), jumlah korban meninggal akibat virus corona di Indonesia berjumlah 3 orang. Namun, peluang untuk tumbuh masih terbuka lebar.
Baca Juga: Bentuk pencadangan, laba Bank BJB menyusut di kuartal III 2019
Sementara, Ghibran menilai terlalu dini untuk melihat dampak secara langsung virus corona terhadap BJBR. Virus corona di Indonesia berpotensi menurunkan loan demand BJBR cabang Bali.
Pasalnya, volume wisatawan asal China juga ikut menurun akibat pembatasan wisatawan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona. Meski, untuk jangka panjang kemungkinan loan demand untuk melambat juga dapat terjadi.
Menimbang kondisi tersebut, Ghibran merekomendasikan untuk Buy saham BJBR dengan target harga Rp 1.200. Sukarno untuk jangka panjang merekomendasikan Buy atau overweight dengan target harga Rp 1.100. Sedangkan, Rahmi merekomendasikan Buy dengan target harga Rp 1.450.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)