kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45938,93   0,00   0.00%
  • EMAS932.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.50%
  • RD.CAMPURAN -0.14%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.06%

Tidak ada jatah khusus untuk INA di balik IPO Mitratel dan PGE


Selasa, 19 Oktober 2021 / 20:45 WIB
Tidak ada jatah khusus untuk INA di balik IPO Mitratel dan PGE

Reporter: Dityasa H. Forddanta | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar tengah menanti initial public offering (IPO) dua anak BUMN, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Di tengah penantian tersebut, muncul kabar aksi korporasi lanjutan yang melibatkan lembaga pengelola investasi nasional, Indonesia Investment Authority (INA).

Kabar itu menyebut, setelah IPO, Mitratel dan PGE bakal menggelar private placement. Saham ini bakal diserahkan kepada INA selaku anchor buyer. Saham ini kemudian bakal dikemas atawa bundling penjualan proyek yang INA tawarkan.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo belum secara gamblang mengonfirmasi aksi korporasi lanjutan dua anak BUMN itu setelah IPO. Namun, pria yang juga akrab dengan sapaan Tiko ini memastikan, tidak ada jatah saham khusus yang dialokasikan untuk INA.

Baca Juga: BEI masih mengantongi 26 perusahaan dalam pipeline IPO

Semua pihak, lanjut Tiko, bisa menjadi pembeli saham, termasuk INA. "Tapi, untuk menjadi anchor investor, harga penawaran tetap akan dibandingkan dengan investor publik lainnya," ujarnya kepada KONTAN belum lama ini.

Dengan begitu, aksi korporasi Mitratel dan PGE tersebut tetap menggunakan mekanisme aksi korporasi pada umumnya.

Tiko menyebut, pemerintah akan melepas 25% saham Mitratel. Adapun target perolehan dana dari IPO ini mencapai US$ 1 miliar hingga US$ 1,4 miliar. Dengan asumsi kurs Rp 14.200 per dollar Amerika Serikat (AS), nilai tersebut setara Rp 14,2 triliun sampai Rp 19,88 triliun. Sedang nilai IPO Pertamina Geothermal Energy belum terlihat.

Secara terpisah, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, BEI telah mengantongi dua pipeline IPO dari sektor infrastruktur. Dalam pipeline tersebut juga terdapat tiga perusahaan energi. 

Hingga 18 Oktober, BEI mengantongi total 26 pipeline IPO. "Sebanyak 16 perusahaan merupakan perusahaan dengan aset skala besar, di atas Rp 250 miliar," ujar Nyoman.

Kemudian, sebanyak 8 perusahaan memiliki aset skala menengah, antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Sisa dua perusahaan memiliki aset skala kecil, di bawah Rp 50 miliar.

 

Selanjutnya: Mitratel bakal IPO, begini rekomendasi analis soal saham emiten menara telekomunikasi

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
UU Kepailitan Tuntas Mendelegasikan Tugas

[X]
×