kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.023.000   -45.000   -1,47%
  • USD/IDR 16.823   -17,00   -0,10%
  • IDX 8.322   41,40   0,50%
  • KOMPAS100 1.169   5,71   0,49%
  • LQ45 843   5,44   0,65%
  • ISSI 297   2,30   0,78%
  • IDX30 446   4,50   1,02%
  • IDXHIDIV20 535   5,84   1,10%
  • IDX80 130   0,54   0,41%
  • IDXV30 146   2,84   1,99%
  • IDXQ30 144   1,31   0,92%

The Fed Tahan Bunga, Rupiah Menguat ke Rp 16.800 per Dolar AS


Rabu, 25 Februari 2026 / 16:02 WIB
The Fed Tahan Bunga, Rupiah Menguat ke Rp 16.800 per Dolar AS
ILUSTRASI. Petugas menunjukkan uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (25/2/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,17% secara harian ke Rp 16.800 per dolar AS. 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,10% secara harian ke Rp 16.813 per dolar AS. 

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, ekspektasi suku bunga AS akan tetap tinggi. Presiden Federal Reserve Boston, Susan Collins mengatakan bahwa suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah "untuk beberapa waktu”. Karena data ekonomi terbaru menunjukkan perbaikan di pasar tenaga kerja, sementara risiko inflasi tetap ada. 

Baca Juga: Kejar Return Lampaui Inflasi, Investor Masih Terjebak Ilusi Nominal

Ketua Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee juga menolak ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, dengan alasan suku bunga harus tetap tidak berubah karena inflasi masih di atas mandat 2% Fed. “Ketua Federal Reserve Atlanta, Raphael Bostic, menggemakan sikap tersebut, menggarisbawahi perlunya menjaga inflasi tetap menjadi fokus utama,” ucap Ibrahim, Rabu (25/2/2026).  

Dari dalam negeri, Ibrahim melihat rupiah dipengaruhi oleh pemberian rating Moody’s. Moody's Ratings (Moody's) telah memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi yuan offshore China dan euro yang diterbitkan pemerintah Indonesia dengan mekanisme shelf registration (obligasi berkelanjutan) senilai US$ 10 miliar. 

Secara fundamental, Moody’s masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah.

Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5% dalam beberapa tahun ke depan, dengan defisit fiskal tetap berada di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

“Dalam kerangka makro konvensional, ini merupakan indikator stabilitas yang selama dua dekade terakhir menopang kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia,” kata Ibrahim. 

Ibrahim memperkirakan rupiah pada Kamis (26/2/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah direntang Rp 16.800 – Rp 16.830 per dolar AS.

Selanjutnya: Kejar Return Lampaui Inflasi, Investor Masih Terjebak Ilusi Nominal

Menarik Dibaca: 6 Skincare untuk Mengatasi Kulit Kering Saat Puasa, Bikin Kulit Lembab dan Sehat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×