Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Investor Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjaga imbal hasil atau return agar mampu melampaui laju inflasi.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir inflasi tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2023 yang mencapai 5,3%, sedang inflasi terendah pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 1,6%. Secara rata-rata, inflasi tahunan dalam 10 tahun terakhir adalah 2,9%.
Infovesta mencatat, pertumbuhan inflasi Indonesia bila diakumulasikan sepanjang 10 tahun terakhir sebesar 32%. Artinya, agar daya beli tidak tergerus, investor perlu mencetak return dari portofolio mereka minimal setara angka tersebut dalam satu dekade.
Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai secara makro angka inflasi tersebut sebenarnya mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga, dengan rata-rata sekitar 2,8% per tahun. Namun, di level mikro, banyak investor masih terjebak dalam ilusi nominal.
Baca Juga: Ramai Emiten Ganti Pengendali di Tahun 2026, Berikut Aturan Lengkap dari BEI
“Misalnya, deposito terlihat memberikan bunga, tetapi setelah dipotong pajak final dan disesuaikan dengan inflasi, real return menjadi lebih kecil,” ujar Yusuf kepada Kontan, Rabu (25/2/2026).
Ia menambahkan, investor juga dihadapkan pada volatilitas inflasi sektoral. Inflasi umum tidak selalu mencerminkan tekanan biaya hidup riil dan nyata dirasakan masyarakat.
Kenaikan harga pangan atau energi dapat menggerus likuiditas investor dalam jangka pendek dan memaksa pencairan investasi lebih awal, sehingga efek compounding yang seharusnya menjadi kekuatan utama investasi jangka panjang justru terputus.
Karena itu, Yusuf menekankan perlunya perubahan paradigma dari sekadar menabung menjadi berinvestasi secara strategis. Diversifikasi lintas instrumen dan lintas waktu menjadi kunci agar portofolio mampu menghasilkan return riil yang positif.
Di tengah ketidakpastian global seperti saat ini, Yusuf melihat beberapa kelas aset relatif diuntungkan.
Surat Berharga Negara (SBN) dinilai menarik karena menawarkan real yield positif dan arus kas stabil. Selain itu, emas masih relevan sebagai safe haven, terutama saat nilai tukar berfluktuasi dan risiko global meningkat.
“Di pasar saham, sektor konsumer juga relatif tahan banting karena ditopang konsumsi domestik yang stabil. Bahkan saat ekonomi melambat, masyarakat tetap memenuhi kebutuhan pokok, sehingga pendapatan emiten di sektor ini cenderung lebih resilien,” jelasnya.
Meski demikian, investor perlu mencermati sejumlah indikator makro agar portofolio tetap on track melampaui inflasi. Yusuf menyoroti kebijakan suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia karena sangat memengaruhi yield obligasi, biaya pinjaman, dan likuiditas pasar.
Selain itu, stabilitas sistem keuangan yang dijaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi fondasi penting bagi kepercayaan investor.
Pergerakan nilai tukar rupiah juga perlu diwaspadai, mengingat depresiasi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor sekaligus memengaruhi profitabilitas emiten, tergantung struktur biaya dan sumber pendapatannya.
Baca Juga: Sentul City (BKSL) Bebas dari Gugatan Pailit, Ini Detailnya
Selanjutnya: Badai PHK Jelang Lebaran, Serikat Pekerja: Ada Modus Hindari THR dan Ganti Pekerja
Menarik Dibaca: 6 Skincare untuk Mengatasi Kulit Kering Saat Puasa, Bikin Kulit Lembab dan Sehat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)