kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Tertekan sentimen harga gas, cermati prospek fundamental PGAS


Senin, 04 November 2019 / 20:52 WIB
Tertekan sentimen harga gas, cermati prospek fundamental PGAS
ILUSTRASI. Fasilitas Pressure Reducing Station (PRS) milik PT Perusahaan Gas Negara Tbk PGAS PGN di Tambak Aji Semarang. Harga saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) sempat menyentuh level terendah sejak awal tahun akibat polemik harga gas.

Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sempat menyentuh Rp 1.850, level terendahnya sejak awal tahun akibat polemik harga gas. Namun, saham pelat merah ini kembali rebound setelah Presiden Joko Widodo meminta Kementerian ESDM menghitung ulang komponen harga gas bagi kebutuhan industri.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menilai, komponen harga merupakan unsur penting untuk menentukan keberlangsungan usaha PGAS. Emiten pelat merah ini perlu pendanaan besar (capital intensive) untuk membangun infrastruktur gas. "Kalau terus mengandalkan liabilitas tidak sehat, perlu diimbangi ekuitas yaitu laba supaya bisa tumbuh cepat," ujar Alfred, Senin (4/11).

Sehingga, menaikkan harga gas sudah cukup logis. Terlebih, harga gas sudah tidak naik sejak 2013.

Baca Juga: Ini alasan mengapa asing mencatatkan net buy hari ini

Bukan hanya itu, harga gas industri di Indonesia lebih murah dibanding harga sejumlah negara lainnya seperti Vietnam dan China. Bahkan dibandingkan harga gas rumah tangga yang berkisar Rp 6.000 per meter kubik, harga gas industri hanya Rp 4000 meter kubik.

Dia menambahkan, koreksi yang sempat terjadi pada saham PGAS sejatinya bukan untuk yang pertama kalinya terjadi. Pada 3 Juli 2018, saham PGAS turun dalam 16,4% akibat langkah PGAS mengakuisisi Pertagas.

Berikutnya, pada 2 November 2018 saham PGAS turun 9,05% akibat wacana pematokan harga gas PGN dalam negeri (DMO) untuk PLN. "Sentimen negatif tersebut semuanya bermuara pada kebijakan pemerintah," imbuh Alfred.

Baca Juga: Menteri ESDM meminta kenaikan harga gas industri ditunda, ini sebabnya

Setali tiga uang, William Simadiputra, analis DBS Sekuritas mengatakan, tren pergerakan harga saham PGAS yang underperfom di bawah IHSG bahkan sudah terjadi mulai 2015-2016. "Isunya terkait regulasi harga gas," ungkap William dalam riset 28 Oktober.

Menurut William, PGAS berpotensi meraup pendapatan US$ 4,07 miliar tahun ini, 35% lebih besar dibanding proyeksi sebelumnya. Namun, ini dengan asumsi volume distribusi PGAS terjaga di atas 1,000 bbtud dan PGAS bisa menaikkan harga gas.

Jika PGAS gagal menaikkan harga jual gas, maka sentimen sebaliknya bakal terjadi. Ini menjadi alasan William mempertahankan rekomendasi hold saham PGAS. "Re-rating bisa saja terjadi jika PGAS mampu menaikkan volume dan harga gas," imbuh dia.

Baca Juga: Inilah data-data mengapa harga gas mesti naik, dari 2013 tidak pernah naik!

Sementara, analis UOB Kay Hian Arandi Arianta masih mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 2.700 per saham. Dalam risetnya tanggal 29 Oktober, alasan Arandi masih memasang posisi bullish untuk saham PGAS adalah PER saham PGAS yang sebesar 14,2 kali. Ini di bawah rata-rata PER selama tiga tahun terakhir.

Meski begitu, volume distribusi dan margin distribusi gas yang di bawah ekspektasi tetap menjadi kunci risiko prospek PGAS.

Kemarin, harga saham PGAS naik 7,03% ke Rp 1.980 per saham.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×