Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Avanty Nurdiana
JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan produksi batubara 397 juta ton di tahun ini. Karena itu, pemerintah akan membatasi produksi batubara 30 juta ton per bulan mulai April 2014. Pembatasan kuota produksi ini diharap bisa membuat harga batubara domestik dan internasional bangkit lagi.
Analis menilai, batasan kuota batubara ini hanya akan mempengaruhi produsen batubara skala kecil. Sedangkan produsen skala besar tetap memproduksi batubara sesuai kontrak yang disepakati.
Analis Batavia Prosperindo Sekuritas, Arandi Nugraha mengatakan, produsen batubara tahun ini sedang fokus efisiensi. Caranya dengan renegosiasi kontrak atau membangun conveyor bridge. Dengan begitu, produsen batubara tak perlu lagi menyewa drumtruck sehingga menghemat biaya holling.
Lydia J Toisuta, analis JP Morgan dalam riset 14 Mei 2014 mengatakan, emiten batubara juga negosiasi dengan kontraktor pertambangan sejak semester II-2013. Ini karena permintaan batubara masih sangat minim.
China kini tengah mengurangi impor batubara dengan kalori rendah. Pasalnya, China tengah mengembangkan pembangkit listrik ramah lingkungan.
Di sisi lain, India sebagai salah satu importir batubara terbesar dari Indonesia sedang ada masalah politik sehingga sulit diprediksi. "Sektor batubara memang masih abu-abu, belum ada sentimen yang bisa mengangkat kinerjanya," ujar Arandi.
Harga terendah
Tak heran harga batubara yang terus turun. Jumat (20/06) harga batubara untuk pengiriman Juli 2014 berada pada US$ 70,35 per ton. Harga tersebut adalah level terendah sepanjang masa.
Lydia memperkirakan, harga batubara di US$ 77-US$ 79 per ton di tahun ini. Sementara itu Arandi memperkirakan, harga batubara tahun ini US$ 75 per ton atau turun 10,7% dari tahun lalu sebesar US$ 83,94 per ton.
Kalau menurut Fajar Indra, Analis Panin Sekuritas, harga batubara akan berada di US$ 77 per ton. Pasalnya, pasar batubara dunia belum akan beranjak dari posisi kelebihan pasokan. Kondisi tersebut terjadi sejak akhir 2011.
Hingga kini, Fajar belum melihat, adanya sinyal perbaikan harga batubara. Dia menambahkan, upaya pemerintah membatasi kuota batubara pun belum terlihat realisasinya. "Belum ada peraturan pemerintah yang mengatur hal ini," kata dia.
Ini nampak dari produksi batubara di kuartal I-2014 masih tinggi. Hingga kuartal I-2014 produksi batubara Indonesia mencapai 105 juta ton, hanya turun 0,05% yoy. Sementara ekspor batubara Indonesia kuartal I-2014 turun 5,2% yoy menjadi 81 juta ton.
Namun Lydia optimistis, kinerja emiten batubara bisa positif dengan adanya anggaran belanja modal yang lebih rendah. Dia memberikan, rating overweight terhadap PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) namun emiten lainnya masih neutral. Sementara Fajar memberikan rating underweight.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













