kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Terbuka peluang IHSG rebound


Jumat, 27 April 2018 / 08:25 WIB
ILUSTRASI. Bursa saham anjlok akibat ketidakpastian global


Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan dalam kemarin, Kamis (26/5). Indeks terjun 170 poin atau setara 2,81% ke level 5.909,20.

Lanjar Nafi, analis Reliance Sekuritas, menjelaskan, tekanan tersebut tak lepas dari sikap konservatif Bank Indonesia (BI) tentang suku bunga sejak bulan lalu pasca naiknya Fed fund rate. "Akibatnya, terjadi outflow yang terus menerus terasa hingga saat ini sebesar Rp 32,96 triliun sejak awal tahun," ujar Lanjar, kemarin.

Tambah lagi, yield obligasi AS tenor 10 tahun naik menembus 3% dan dollar Amerika Serikat (AS) menguat. Alhasil, terjadi sell of obligasi Indonesia terbesar dalam dua minggu.

Tapi, tekanan itu secara teknikal justru membuat indeks tertahan pada level 5.900 yang merupakan level target support koreksi FR 161.8%. "Sehingga indikasi rebound cukup kuat," imbuh Lanjar.

Dia memprediksi, pada hari ini IHSG akan bergerak dengan rentang 5.880–6.000. Secara fundamental, pergerakan indeks selanjutnya akan dipengaruhi oleh sikap investor yang fokus pada statement BI dalam penyesuaian kebijakan moneter dan kelanjutan intervensi jika dibutuhkan guna menahan permintaan dollar AS.

Hendri Widiantoro, analis Erdikha Elit Sekuritas memprediksi, indeks pada perdagangan akhir pekan ini akan bergerak kembali turun dengan rentang pergerakan 5.879–5.967. Indeks telah membentuk pola candle bearish continuation. "Indeks terkonfirmasi kembali melanjutkan tren pelemahan jangka menengahnya," pungkas Hendri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×