kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Tembus level US$ 9.000, harga bitcoin bakal terkoreksi lagi


Kamis, 30 April 2020 / 19:51 WIB
Tembus level US$ 9.000, harga bitcoin bakal terkoreksi lagi
ILUSTRASI. Bitcoin


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga uang kripto bitcoin menembus level US$ 9.000 per btc  pada perdagangan Kamis (30/4). Harga bitcoin bertengger di level US$ 9.447 per btc hingga pukul 15:56 WIB, Kamis (30/4).

Dosen Universitas Bina Nusantara (Binus) dan praktisi uang kripto Hugo Prasetyo mengatakan, saat ini terdapat gap kosong harga bitcoin di rentang US$ 8.000 per btc hingga US$ 8.500 per btc. Angka tersebut sudah merosot drastis jika dibandingkan capaian 6 Maret 2020 yang sempat menyentuh kisaran US$ 9.000 per btc.

"Gap tersebut akan selalu menjadi magnet untuk diisi. Ditambah lagi, pertengahan Mei akan terjadi halving day," kata Hugo kepada Kontan, Kamis (30/4).

Dia menambahkan, penelitian JP Morgan memperkirakan harga bitcoin berpotensi naik dua kali lipat menjadi US$ 8.000 per btc dan itu sudah terbukti. Kenaikan tersebut jadi momentum penting bagi penambang bitcoin dan ekosistem agar berjalan baik.

Baca Juga: Harga bitcon naik 5,9% sejak awal tahun, begini prospek selanjutnya

Hugo memperkirakan, dalam waktu dekat bitcoin yang sudah menguat 20% akan mengalami koreksi, untuk kemudian secara perlahan harga akan kembali menanjak. Kondisi tersebut bisa diprediksi dari histori bitcoin yang cenderung mengalami puncak kenaikan harga  1 tahun-2 tahun setelah halving day dan diperkirakan akan terjadi di Desember 2021.

"Sepanjang 2020, harga diperkirakan bergerak di rentang support US$ 6.800 per btc dengan level resistance di kisaran US$ 14.000 per btc dan US$ 16.000 per btc," ujarnya.

Ke depan, berbagai sentimen positif juga masih menjadi penopang kenaikan harga bitcoin, termasuk penggunaan mata uang digital oleh China.

Terkait prospek bitcoin sebagai safe haven, Hugo menilai bitcoin lebih cocok untuk mengantisipasi hiperinflasi dan bukan sebagai safe haven. Meskipun, ketika terjadi mini krisis di industri keuangan secara global akibat sebaran Covid-19, banyak pelaku pasar yang meyelamatkan asetnya dengan beralih ke fiat currency.

"Bukan hanya harga saham yang turun dalam, obligasi hingga bitcoin juga sempat turun dan terimbas dampak Covid-19. Alhasil istilah fiat is still the king masih dipercaya selama krisis," jelasnya.

Menurut Hugo, jika bitcoin menjadi safe haven maka harganya berpotensi melambung tinggi. Di sisi lain, kondisi tersebut bisa mengganggu investasi tradisional seperti indeks saham, obligasi dan emas.

Sejalan dengan harga yang sudah cukup tinggi, Hugo merekomendasikan buy on weakness untuk masuk ke aset bitcoin. Bagi investor yang ingin berinvestasi di jangka panjang, bisa menunggu harga koreksi ke level US$ 8.000 per btc untuk masuk.

Sedangkan untuk jangka pendek, investor bisa masuk saat harga bitcoin menyentuh level US$ 8.900 per btc atau US$ 9.000 per btc.

"Untuk jangka panjang, tunggu US$ 8.000 per btc. Jika tidak juga tembus US$ 8.400 per btc, artinya harga akan naik sampai US$ 11.000 per btc," imbuh Hugo.

Baca Juga: Tokocrypto resmi perdagangkan Token Origin mulai hari ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×