kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.211   48,00   0,28%
  • IDX 7.542   -17,77   -0,24%
  • KOMPAS100 1.031   -8,30   -0,80%
  • LQ45 736   -7,70   -1,04%
  • ISSI 273   -0,06   -0,02%
  • IDX30 401   0,75   0,19%
  • IDXHIDIV20 492   5,09   1,05%
  • IDX80 115   -0,96   -0,82%
  • IDXV30 141   2,14   1,54%
  • IDXQ30 129   0,46   0,36%

Tekanan Rupiah Belum Reda, Ini Syarat Agar Rupiah Kembali Menguat


Rabu, 22 April 2026 / 17:07 WIB
Tekanan Rupiah Belum Reda, Ini Syarat Agar Rupiah Kembali Menguat
ILUSTRASI. Rupiah kembali melemah ke Rp17.181 per dolar AS pada Rabu (22/4/2026).


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek nilai tukar rupiah dinilai masih akan bergerak dinamis dalam waktu dekat, meskipun peluang penguatan tetap terbuka di tengah berbagai sentimen global dan domestik.

Perlu diketahui nilai tukar rupiah di pasar spot masih tak mampu keluar dari tekanan hingga akhir perdagangan hari ini. Rabu (22/3/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.181 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,22% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada Rp 17.143 per dolar AS. 

Ada pun demikian, jika ditarik lebih jauh rupiah sempat berada pada titik terlemahnya sepanjang masa, yakni sempat ditutup di Rp 17.189 per dolar AS pada Jumat (17/4/2026).

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, rupiah tidak serta-merta akan terus melemah tanpa jeda. 

Baca Juga: Produk Baru Jadi Katalis, Begini Prospek Kinerja Indofood Sukses Makmur (INDF)

Peluang penguatan jangka pendek masih ada, terutama jika ketegangan di Timur Tengah mereda, harga minyak turun lebih konsisten, serta tekanan dolar AS tidak kembali menguat.

“Namun penguatan yang terjadi kemungkinan masih terbatas, belum mengarah pada pemulihan yang kuat,” ujar Josua kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).

Ia menjelaskan, meskipun indeks dolar AS telah menurun berada di kisaran 98,3 dan premi risiko Indonesia juga mulai menurun, ternyata rupiah tetap bertahan di level sekitar Rp 17.100–Rp 17.200 per dolar AS sepanjang April 2026.

Pada saat yang sama, indikator risiko juga menunjukkan perbaikan. Premi risiko Indonesia tenor 5 tahun turun dari sekitar 101 pada akhir Maret menjadi 81,85 per 22 April. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga menurun dari 6,86% menjadi 6,61%.

Kendati demikian, nyatanya rupiah belum mampu menguat signifikan. Hal ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda tidak hanya berasal dari faktor eksternal seperti dolar global, tetapi juga dari kebutuhan valuta asing domestik serta arus dana asing yang belum pulih sepenuhnya.

Menurut Josua, sentimen utama yang memengaruhi pergerakan rupiah masih berkisar pada faktor geopolitik, harga minyak, arah suku bunga global, serta arus modal asing.

Ia menilai pasar masih menghadapi risiko dua arah, terutama karena gencatan senjata dan perundingan antara AS dan Iran belum sepenuhnya stabil. Konflik di Timur Tengah juga berdampak pada penyempitan ruang fiskal, kenaikan biaya energi, hingga meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor migas.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Bergerak Volatile pada Kamis (23/4), Ini Kata Analis

Dari sisi arus modal, pada kuartal I-2026 investor asing masih mencatat arus keluar bersih sekitar US$ 1,78 miliar. Rinciannya, pasar obligasi mencatat outflow US$ 1,48 miliar dan pasar saham US$ 1,95 miliar, sementara instrumen 

Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga masih mencatat arus masuk sebesar US$ 1,64 miliar.

Memasuki April 2026, kondisi mulai menunjukkan perbaikan dengan adanya arus masuk sebesar US$ 0,76 miliar. Namun, jumlah tersebut dinilai masih kecil dan belum cukup untuk mendorong rupiah kembali ke tren penguatan yang solid.

“Jadi, kalau ditanya apakah rupiah bisa menguat, jawabannya bisa, tetapi butuh perbaikan serentak di harga minyak, arus dana asing, dan persepsi risiko Indonesia,” lanjut Josua.

Rupiah dalam jangka pendek diperkirakan Josua berpotensi bergerak di Rp 17.000 - Rp 17.200 per dolar AS dan pada semester I 2026 berpotensi akan ditutup dalam rentang Rp 16.900 - Rp 17.250, dengan risiko condong ke sisi penguatan bila ketegangan geopolitik cenderung mulai mereda. 

Sedangkan untuk akhir 2026, skenario dasar diperkirakannya rupiah berada di sekitar Rp 16.800 - Rp 17.200. 

Baca Juga: Dibayangi Risiko MSCI Saham BREN dan DSSA Tumbang, Begini Rekomendasi Analis

Tetapi untuk skenario yang lebih baik hanya mungkin bila konflik mereda lebih permanen, arus asing kembali masuk lebih kuat, dan BI nantinya mendapat ruang untuk mulai melonggarkan suku bunga secara hati-hati menuju akhir tahun. 

Sebaliknya, Josua menekankan dalam skenario buruk, seperti harga minyak kembali naik dan arus keluar asing membesar lagi, maka Ia melihat rupiah masih bisa berpotensi bertahan dalam tekanan terhadap dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×