Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
Terkait pelemahan rupiah, Ramdhan menyebut kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan ekonomi akibat ketidakpastian global.
Situasi ini membuat investor menjadi lebih berhati-hati dan cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar obligasi, meskipun kebutuhan terhadap instrumen surat utang tetap ada.
Ke depan, Ramdhan menilai tekanan pasar obligasi masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, seiring dinamika global yang masih berubah. Namun, dalam jangka lebih panjang, peluang penurunan suku bunga dinilai masih terbuka.
Baca Juga: Penerbitan SBN Meningkat, Yield SBN Diprediksi Turun di 2026
Menurutnya, ketegangan global, termasuk kebijakan tarif dan dinamika hubungan antarnegara besar, bersifat sementara dan berpotensi mereda melalui negosiasi.
Ramdhan memperkirakan dalam dua hingga tiga minggu ke depan pasar masih berpotensi tertekan, namun dalam satu hingga dua bulan ke depan kondisi pasar dapat kembali lebih stabil.
“Kalau kondisi global sudah lebih stabil, itu akan cenderung menguatkan pasar kita. Saya masih cukup optimistis yield bisa mendekati 6,0% lagi di kuartal I 2026,” pungkasnya.
Selanjutnya: Penerbitan SRBI Bikin Bank Enggan Salurkan Kredit, Hambat Pertumbuhan Ekonomi
Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Bank Indonesia
- Obligasi Negara
- rupiah
- SUN
- lelang SBN
- lelang SUN
- surat utang negara
- Dolar AS
- SBN
- strategi investasi
- Investor Domestik
- ekonomi makro
- investor asing
- Surat Berharga Negara
- Ketidakpastian Global
- Pasar SBN
- Ramdhan Ario Maruto
- Imbal Hasil SBN
- Yield SBN
- Investasi SBN
- proyeksi SBN
- Kondisi Pasar Obligasi













