kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Techno9 (NINE) Bagikan Perkembangan Terbaru Soal Akuisisi Tambang di Mongolia


Selasa, 06 Januari 2026 / 18:26 WIB
Techno9 (NINE) Bagikan Perkembangan Terbaru Soal Akuisisi Tambang di Mongolia
ILUSTRASI. PT Techno9 Indonesia Tbk NINE (Dok/NINE). PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) menyampaikan perkembangan terbaru terkait aset tambang milik Poh Group di Mongolia yang dikelola PGGR.


Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) menyampaikan perkembangan terbaru terkait aset tambang milik Poh Group di Mongolia yang dikelola melalui Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR).

Aset tersebut merupakan bagian dari portofolio pertambangan Poh Group yang direncanakan untuk diinjeksi ke dalam NINE.

"Perkembangan ini berpotensi memberikan dampak material terhadap rencana investasi pertambangan Poh Group di Indonesia ke depan, baik melalui skema kerja sama operasi (joint operation/JO) maupun melalui kepemilikan langsung," tulis Nuzwan Gufron selaku Direktur Utama NINE di keterbukaan informasi, Selasa (6/1/2026).

PGGR merupakan entitas yang berafiliasi dengan Poh Group melalui pemegang saham pengendali yang sama, yaitu Poh Kay Ping, serta merupakan pemilik 100% atas dua konsesi pertambangan di Mongolia.

Baca Juga: BEI Melakukan Suspensi Saham JARR, LINK, NINE, SMKM dan STRK Mulai Jumat (29/8/2025)

Aset-aset pertambangan tersebut direncanakan untuk diinjeksi ke dalam NINE.

Nuzwan menerangkan bahwa NINE telah menandatangani suatu opsi untuk membeli aset-aset pertambangan di Mongolia yang dimiliki PGGR, antara lain persetujuan pemegang saham, persetujuan regulator yang berwenang, termasuk Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, penilaian independen oleh dua penilai yang disetujui, masing-masing satu dari Indonesia dan Australia, serta kepatuhan terhadap seluruh peraturan perundang-undangan dan diakhiri dengan penandatanganan dokumen transaksi yang bersifat definitif.

Seiring dengan hal tersebut, PGGR telah menandatangani suatu Framework Agreement for Mining Cooperation dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia.

Entitas EPC+F tersebut merupakan perusahaan berskala besar yang dimiliki secara privat di Inner Mongolia, Tiongkok, didirikan sejak tahun 1998, dengan jumlah karyawan lebih dari 1.000 orang  dan total aset melebihi US$ 500 juta. 

Perusahaan tersebut secara legal memiliki dan mengoperasikan tambang terbuka (open-pit mines) dan tambang bawah tanah (underground mines), memiliki pengalaman matang dalam eksploitasi pertambangan dan manajemen operasi, serta telah menyelesaikan investigasi khusus atas tambang-tambang di Mongolia, Indonesia, dan negara lainnya, sehingga memiliki dasar yang   kuat untuk kerja sama pertambangan lintas negara.

Baca Juga: BEI Buka Gembok Perdagangan Saham ROCK, NINE, DATA, CSMI Pada Hari Ini (27/8)

Entitas EPC+F tersebut juga menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan PGGR, termasuk pihak-pihak terafiliasi seperti Poh Group dan NINE, baik dalam eksploitasi tambang yang dimiliki secara langsung maupun tidak langsung, maupun melalui skema kerja sama operasi dengan pihak ketiga di Indonesia. 

"Kerja sama tersebut akan dilaksanakan dengan ketentuan bahwa setiap proyek pertambangan dinilai layak secara ekonomi serta telah memperoleh persetujuan manajemen dan pemegang saham dari seluruh pihak terkait," ucap Nuzwan.

Lebih lanjut, entitas EPC+F tersebut memiliki niat dan kapasitas untuk melakukan investasi lebih dari US$ 100 juta guna mengimplementasikan operasi pertambangan bagi proyek-proyek PG, NINE, dan PGGR, dengan kapasitas produksi tahunan yang diproyeksikan melebihi 20 juta ton. 

Realisasi rencana investasi ini bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence) yang memuaskan serta diperolehnya persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri (Overseas Direct Investment/ODI) dari otoritas Tiongkok yang berwenang di wilayah domisili entitas tersebut untuk setiap proyek kerja sama yang spesifik. Adapun besaran investasi aktual akan disesuaikan dengan jumlah persetujuan atau pencatatan yang diperoleh.

PGGR bersama dengan pihak-pihak terafiliasinya, yakni Poh Group dan NINE, terus mendorong terwujudnya kerja sama pertambangan lintas negara. Saat ini, PG dan NINE tengah melakukan negosiasi lanjutan secara intensif terkait rencana kerja sama operasi dengan sejumlah perusahaan pertambangan di Indonesia yang memiliki izin usaha pertambangan yang sah. 

Negosiasi tersebut mencakup sumber daya seperti emas, batubara, timah, dan bauksit, dengan tujuan memperluas basis sumber daya dalam kerja sama antara para pihak.

Dampak Bagi Pemegang Saham

Perkembangan ini berpotensi memiliki dampak material bagi para pemegang saham NINE, khususnya apabila opsi pembelian aset pertambangan PGGR di Mongolia   dilaksanakan, serta terhadap keterlibatan NINE di masa depan dalam proyek- proyek pertambangan di Indonesia, karena membuka jalur monetisasi aset yang lebih terstruktur.

NINE akan terus melakukan penjajakan dan pengembangan berbagai peluang  usaha di Indonesia maupun di kawasan regional guna memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.

Selanjutnya: IHSG Cetak Rekor Penutupan Tertinggi Hari Ini (6/1), Simak Proyeksinya Besok (7/1)

Menarik Dibaca: Hujan Pagi Lanjut Sore Hari, Cek Prakiraan BMKG Cuaca Besok (7/1) di Jakarta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×