Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Pasar keuangan global terguncang di awal tahun Monyet Api. Pemicunya, kekhawatiran perlambatan ekonomi China serta rontoknya harga minyak. Tak pelak, pasar domestik terkena imbas.
Meski begitu, instrumen Surat Utang Negara (SUN) dan saham diproyeksi masih berpeluang memberi cuan sepanjang tahun ini.
Senior Fund Manager BNI Asset Management Hanif Mantiq menjelaskan, meski ekonomi global belum pulih, Indonesia masih cukup bullish. "Ada perbedaan arah antara makro Indonesia dan makro global,” tuturnya.
Buktinya, inflasi terjaga di level 4% (±1%), rupiah tergolong stabil, dan proyek infrastruktur mulai berjalan.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2016 juga diprediksi melebihi 5%. Apalagi masih ada peluang penurunan BI rate. Maka, Hanif menyarankan, investor bersikap agresif, dengan menempatkan dana pada saham dan SUN.
Ia optimistis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa ke level 5.600 tahun ini. “Manfaatkan valuasi saham yang sedang murah. Pilih saham sektor konsumer, perbankan dan konstruksi,” sarannya.
Di pasar obligasi, investor bisa mengoleksi SUN bertenor panjang. Menurutnya, yield SUN berpeluang turun 100 basis poin. Sehingga, investor bisa meraup cuan dari kenaikan harga (capital gain).
Sedangkan, koleksi emas baru disarankan pada 2017, sebab inflasi Eropa diproyeksikan baru naik tahun depan. “Kalau memegang dollar AS return kecil, karena rupiah relatif stabil,” imbuh Hanif.
Investment Director Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana juga menyarankan, investor berburu SUN. Ia menduga, BI rate berpotensi menyusut 50 bps. “Yield akan turun, dan harga SUN jangka panjang bisa naik banyak,” jelasnya.
Adapun, bagi investor agresif, Jemmy menyarankan masuk ke saham. Proyeksinya, IHSG tahun ini bisa antara 4.900-5.500. Sektor yang menarik antara lain konstruksi, semen dan perbankan.
"Kurangi alokasi di deposito, alihkan ke obligasi negara ritel. Emas juga belum menarik. Harganya tidak akan ke mana-mana, karena rupiah stabil,” imbuhnya.
Perencana Keuangan Eko Endarto bilang, investor jangka pendek, sebaiknya menaruh dana pada surat utang negara ritel dan reksadana pendapatan tetap.
“Kalau mau sedikit berspekulasi, bisa menaruh dana pada deposito Bank Perkreditan Rakyat (BPR) karena bunganya bisa 100 bps-200 bps di atas bunga deposito bank umum,” paparnya.
Lalu, bagi investor dengan horizon investasi tiga hingga lima tahun bisa menaruh dana di reksadana pendapatan tetap, terproteksi, reksadana campuran, serta emas. Investor jangka panjang disarankan menempatkan dana pada saham.
Eko menilai, bursa domestik bakal membaik. "Sektor saham yang bisa menjadi pilihan adalah konsumer, kesehatan, serta infrastruktur,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













