Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia (XAU/USD) kembali menunjukkan keperkasaannya dengan bergerak di kisaran US$ 4.595,50 per ons troi.
Laporan Bloomberg mencatat bahwa reli lonjakan harga emas hingga mendekati 15% sepanjang Agustus 2026 ini membawa harga kembali menembus ke atas level psikologis US$ 4.600 per ons troi.
Fenomena ini memicu pertanyaan di kalangan investor, mengingat secara teori konvensional, suku bunga acuan yang bertahan di level tinggi umumnya meningkatkan holding cost atau opportunity cost dari memegang aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) seperti emas.
Baca Juga: Selamat Sempurna (SMSM) Terima Dividen Rp 34,13 Miliar dari Entitas Anak
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai fenomena patahnya korelasi negatif antara suku bunga tinggi dan harga emas saat ini lebih tepat dikategorikan sebagai pergeseran struktur pasar ketimbang sekadar anomali sementara.
Menurutnya, dinamika penggerak harga emas kini telah meluas ke berbagai faktor risiko makro yang mendalam.
"Secara teori, suku bunga tinggi seharusnya menekan emas karena meningkatkan opportunity cost. Namun, kondisi saat ini lebih tepat disebut pergeseran pasar daripada anomali. Emas kini tidak hanya dipengaruhi suku bunga, tetapi juga kekhawatiran terhadap utang AS, risiko debasement dolar, de-dolarisasi, pembelian bank sentral, dan ketidakpastian geopolitik," ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (27/6/2026).
Sejalan dengan analisis tersebut, laporan Bloomberg menggarisbawahi bahwa intervensi Departemen Keuangan AS (US Treasury) dalam program pembelian kembali obligasi (buyback) telah menghidupkan kembali minat investor terhadap strategi debasement trade.
Investor berbondong-bondong mengamankan dana ke dalam emas sebagai pelindung nilai (hedge) terhadap pembengkakan defisit anggaran pemerintah AS dan potensi penurunan daya beli dolar jangka panjang.
Terkait kebijakan buyback obligasi AS senilai US$ 4 miliar per operasi mulai September 2026, Lukman memandang langkah tersebut bertindak sebagai katalis sentimen pendukung dibandingkan dengan penyebab tunggal.
Nilai tersebut relatif terbatas jika dibandingkan dengan total ukuran pasar Treasury AS. Namun, sinyal bahwa otoritas fiskal AS mulai sensitif terhadap lonjakan imbal hasil (yield) jangka panjang kian mempertegas risiko fiskal yang dihadapi Negeri Paman Sam.
Analis Zijin Tianfeng Futures Co., Liu Shiyao, menegaskan dalam laporan Bloomberg bahwa secara teknikal momentum emas masih terjaga.
"Harga emas masih berada di sekitar level rata-rata pergerakan lima hari, yang merupakan tanda kekuatan," kata Liu.
Menurutnya, pemulihan harga yang konsisten dalam beberapa pekan terakhir juga berhasil membawa emas bergerak di atas garis moving average 200 hari (MA-200), yang kerap dijadikan tolok ukur penting bagi momentum jangka panjang.
Menanggapi risiko penguatan Indeks Dolar AS (DXY) akibat potensi kenaikan harga energi, Lukman memperkirakan emas berpeluang mengalami koreksi teknikal jangka pendek, namun tidak akan jatuh secara drastis.
Ia menegaskan bahwa tren bullish emas hingga akhir tahun tetap solid, ditopang oleh akumulasi cadangan devisa bank sentral global, arus masuk ke ETF berbasis emas, serta status safe haven yang kuat di tengah dinamika geopolitik global.
Baca Juga: Dolar Melemah dan Intervensi US Treasury Memicu Reli Emas, Intip Prospeknya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














