kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45916,37   -3,13   -0.34%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Suku Bunga Tinggi dan Perang Berkecamuk, Pasar Nilai Tukar Tak Kuasa Hadapi Dolar AS


Minggu, 14 April 2024 / 19:49 WIB
Suku Bunga Tinggi dan Perang Berkecamuk, Pasar Nilai Tukar Tak Kuasa Hadapi Dolar AS
ILUSTRASI. Pasar mata uang tak kuasa menahan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS).


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar mata uang tak kuasa menahan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Indeks dolar AS melonjak ke level 106 pada Jumat (12/4) yang merupakan level tertinggi sejak awal November 2023.

Penguatan dolar menyusul adanya ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Di samping itu, dolar AS didukung adanya ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Akibatnya Euro (EUR) dan poundsterling Inggris (GBP) jatuh ke level terendah terhadap dolar sejak November dan Yen (JPY) terperosok ke level terlemah dalam 34 tahun. Rupiah (IDR) juga terbanting ke level atas Rp 16.000 per dolar AS di tengah kondisi libur panjang idul fitri.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Lukman Leong mengatakan bahwa penguatan dolar Amerika dilatarbelakangi dua data penting secara beruntun yaitu Non Farm Payroll (NFP) dan Consumer Price Index (CPI). Data tenaga kerja dan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tersebut telah memudarkan prospek pemangkasan suku bunga The Fed dari semula Juni menjadi September.

Baca Juga: Sederet Emiten Ramai Menggelar Buyback, Cermati Rekomendasi Saham Berikut Ini

Inflasi AS di luar dugaan menanjak ke 3,5% year on year (YoY) pada Maret 2024, dari 3,2% pada Februari 2024. Inflasi inti - di luar makanan dan energi - stagnan di angka 3,8%. Sementara, data tenaga kerja AS juga menunjukkan adanya penambahan tenaga kerja hingga 303.000 untuk non-farm payrolls yang berada jauh di atas ekspektasi pasar yakni 200.000.

“Terlebih, situasi yang memanas di Timur Tengah semakin mendukung dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe haven),” ujar Lukman kepada Kontan.co.id, Minggu (14/4).

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menuturkan bahwa serangan baru-baru ini dari Iran ke Israel tak terduga pada Minggu (14/4). Padahal, banyak yang menduga Iran bakal menyerang Israel lewat pihak ketiga seperti Hizbullah atau Hamas.

Iran telah mengirim puluhan drone dan rudal ke Israel. Tindakan ini diungkapkan sebagai aksi balasan atas tindakan agresif rezim Zionis terhadap Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Damaskus-Suriah pada 1 April 2024 lalu.

Baca Juga: Iran Serang Israel, Subsidi Energi Indonesia Berpotensi Melonjak

Sehingga, lanjut Ibrahim, kekacauan di timur tengah tersebut diperkirakan bakal terus mendukung dolar AS yang dampaknya bisa melemahkan nilai tukar lainnya termasuk rupiah. Di sisi lain, pasar keuangan domestik sendiri tengah menikmati libur lebaran lebih dari sepekan yang semakin membuat dolar AS tak terbendung.

Pelemahan rupiah di pasar internasional ini karena Bank Indonesia (BI) belum melakukan intervensi, ditambah lagi tidak adanya data ekonomi dalam negeri yang dirilis selama cuti idul fitri. Dengan demikian, rupiah kemungkinan besar bakal dibuka melemah pada perdagangan Selasa (16/4) usai libur panjang.

“Sehingga wajar rupiah melanjutkan pelemahan di atas Rp 16.000 per dolar AS,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (14/4).

Lukman menilai bahwa perlu segera adanya intervensi bagi bank sentral untuk menyelamatkan posisi nilai tukar. Walau posisi suku bunga sudah tinggi, namun Bank Indonesia (BI) dipandang memiliki alasan yang cukup kuat untuk kembali mengerek suku bunga seiring kenaikan inflasi.

Baca Juga: Surplus Neraca Perdagangan RI Diperkirakan Naik Tipis pada Maret 2024

Sementara itu, Bank of Japan (BoJ) diharapkan segera bertindak untuk menahan yen terjatuh lebih dalam lagi. Perkembangan tangguhnya dolar dan inflasi dalam negeri Jepang yang masih tinggi semestinya alasan yang cukup bagi BoJ untuk menaikkan suku bunganya.

“Melihat keadaan sekarang, kedua bank sentral tersebut hanya bisa defensif, artinya intervensi mungkin hanya menghambat pelemahan yang besar dan sulit menguatkan,” jelas Lukman kepada Kontan.co.id, Minggu (14/4).

Menurut Lukman, rupiah dalam jangka pendek akan berada dalam rentang Rp16.000 – Rp 16.500 per dolar AS. Sedangkan Yen Jepang diperkirakan berada dalam rentang 150-155 terhadap dolar AS. Namun prospek nilai tukar akan sangat bergantung pada intervensi yang dilakukan bank sentral terkait.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×