kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45921,46   1,15   0.12%
  • EMAS1.343.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Suku Bunga Acuan Naik, Begini Prospek Saham Sektor Properti


Senin, 21 November 2022 / 07:43 WIB
Suku Bunga Acuan Naik, Begini Prospek Saham Sektor Properti
ILUSTRASI. Rekomendasi saham untuk emiten properti


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Kenaikan suku bunga acuan akan memberikan tekanan pada emiten properti.

Analis Henan Putihrai Jono Syafei menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan ini akan menjadi sentimen negatif, khususnya pada tahun depan. Sebab, akan mempengaruhi daya beli masyarakat yang tergantung pada suku bunga kredit KPR.

"Tahun depan akan melambat dibandingkan tahun sebelumnya karena high base effect dari tahun sebelumnya dan insentif pajak sudah tidak ada," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (18/11).

Untuk tahun ini, Jono memperkirakan emiten properti masih akan tetap kuat. Utamanya, karena beberapa emiten melakukan serah terima di akhir tahun ini sehingga akan tercatat sebagai pendapatan.

"Marketing sales hingga September 2022 mayoritas masih menunjukkan pertumbuhan positif dari tahun, lalu meskipun di tengah sentimen negatif dari ancaman resesi atau perlambatan ekonomi global," jelasnya.

Baca Juga: Suku Bunga BI Naik Lagi, Siap-Siap Bunga KPR Akan Naik

Research Analyst di Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mencermati, kenaikan suku bunga berdampak negatif untuk sektor properti. Setelah kenaikan suku bunga, Arjun mengatakan bahwa secara umum harga saham sektor properti akan turun.

"Bahkan kalau kami lihat tren grafik harga saham sektor properti turun satu minggu sebelum kenaikan suku bunga karena kemungkinan tinggi pasar sudah antisipasi kenaikan suku bunga," paparnya.

Menurutnya, para investor mulai mengalihkan saham dari sektor properti ke sektor saham lain yang lebih kondusif terhadap kenaikan suku bunga seperti sektor perbankan. Sejak awal tahun hingga 18 November 2022, kinerja indeks harga sahamnya turun 10,44%.

Arjun juga memaparkan, dampak kenaikan suku bunga terhadap sektor properti akan membawa efek negatif dari sisi permintaan. Sebab investor akan lebih selektif membeli atau menyewa properti karena akan terdampak tingginya suku bunga pinjaman.

Selain karena efek suku bunga tinggi, efek depresiasi Rupiah juga akan menekan kinerja emiten properti jika perusahaan tersebut mempunyai jumlah utang cukup banyak dalam denominasi Dollar.

"Efeknya beban keuangan pada emiten tersebut akan meningkat," katanya.

Baca Juga: Kinerja Mendaki, Saham Emiten Milik Konglomerat ini Layak Koleksi

Di sisi lain, pemerintah memperpanjang kebijakan pelonggaran rasio loan to value (LTV) dan financing to value (FTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) serta pembiayaan properti hingga 31 Desember 2023.

Arjun mengatakan bahwa sentimen tersebut menjadi sentimen positif. Hanya saja, sentimen tersebut masih akan kalah dibandingkan sentimen negatif yang membayangi sektor properti.

"Saya menilai pengaruh insentif DP 0% kurang efektif karena hal itu tidak serta merta meringankan beban pembayaran kustomer untuk membeli properti. Jadi bisa dibilang untuk sektor properti masih terpengaruh besar sentimen negatif dari kenaikan suku bunga," imbuhnya.

Di tengah sentimen negatif yang membayangi, Arjun menjagokan saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dan menyematkan rekomendasi buy on weakness. Adapun target harga Rp 610.

Dijelaskannya, saham SMRA sudah mengalami kenaikan laba bersih yang cukup tinggi dibandingkan dengan kuartal III-2021. Lalu, fundamental untuk perusahaan ini solid dan saham ini juga undervalued bandingkan sama rata-rata industri untuk sektor properti.

 

"PER ratio untuk SMRA adalah 19,79 kali, lebih murah dibandingkan sama PER industri properti sebesar 23,59 kali," jabarnya.

Sementara Jono merekomendasikan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan target harga Rp 1.300.

Dipilihnya CTRA karena memiliki produk dan lokasi yang paling terdiversifikasi, terutama di luar Jawa dan daerah penghasil komoditas. CTRA juga memiliki neraca yang kuat sehingga tetap dapat ekspansif dan memiliki pendapatan berulang yang stabil dari bisnis mall, hotel, serta rumah sakit.

Jono juga memperkirakan pendapatan berulang CTRA akan terus bertumbuh seiring meningkatnya daya beli masyarakat dan tidak adanya pembatasan sosial dan kunjungan.

"Selain itu CTRA juga akan memiliki proyek di wilayah IKN," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×