Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan kembali terkoreksi pada perdagangan Selasa (3/3/2026)
Sekedar mengingatkan, IHSG ambruk 2,66% atau terpangkas 218 poin ke level 8.016,83 saat perdagangan ditutup pada hari ini (2/3/2025).
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan, pergerakan IHSG hari ini dibebani oleh berbagai sektor siklikal dan industrial.
“Ketegangan geopolitik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz menjadi sentimen yang mempengaruhi tidak hanya IHSG namun secara global,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/3/2026).
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Emas Berpotensi Tembus Rekor Baru
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, pelemahan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang memicu perang terbuka.
Situasi tersebut membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko (risk-off) dan beralih ke instrumen safe haven. Kondisi diperparah dengan serangan balasan Iran, termasuk serangan drone yang menargetkan fasilitas kilang minyak Ras Tanura milik Aramco di Arab Saudi.
Eskalasi konflik ini mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi global dan kemungkinan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
“Namun demikian, pelemahan IHSG relatif tertahan oleh penguatan saham-saham sektor energi dan tambang emas, yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/3/2026).
Dari sisi domestik, sentimen masih relatif stabil dengan inflasi Februari tercatat sebesar 4,76% YoY, serta neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat surplus sebesar US$ 960 juta pada Januari 2026.
“Ini menandai surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2021,” tuturnya.
Baca Juga: Kinerja Emiten CPO Grup Salim Kuat, Simak Rekomendasi Sahamnya
Untuk Selasa (3/3/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan support 7.979 dan resistance 8.103. “Sentimennya masih sama,” ungkapnya.
Herditya pun menyarankan investor mencermati saham HRTA dan PSAB dengan target harga masing-masing Rp 3.500 - Rp 3.660 per saham dan Rp 600 - Rp 635 per saham pada perdagangan esok. Serta, sell on strength untuk BMRI dengan target harga Rp 5.175 - Rp 5.225 per saham.
Reza melihat, IHSG berpotensi masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa (3/3/2026) seiring meningkatnya sentimen risk-off global akibat konflik Iran–AS–Israel.
Selama ketegangan geopolitik masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda de-eskalasi, investor global cenderung melakukan pengurangan eksposur pada aset berisiko, termasuk pasar saham emerging market.
Secara teknikal, Reza memproyeksikan, IHSG berpotensi bergerak pada kisaran support di 7.950 – 8.000 dengan resistance terdekat di area 8.150 – 8.200.
“Di tengah kondisi ini, aliran dana berpotensi berpindah ke aset safe haven seperti emas, sementara saham-saham berbasis komoditas cenderung lebih resilien,” tuturnya.
Reza pun merekomendasikan beli untuk MEDC, DOID, dan HRUM dengan target harga masing-masing Rp 2.060 – Rp 2.130 per saham, Rp 324 – Rp 338 per saham, dan Rp 1.239 – Rp 1.275 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













