kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45714,31   4,95   0.70%
  • EMAS913.000 0,55%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN -0.19%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.21%

Strategi Pelangi Indah Canindo (PICO) bergelut dengan kenaikan harga bahan baku


Selasa, 18 Desember 2018 / 07:27 WIB
Strategi Pelangi Indah Canindo (PICO) bergelut dengan kenaikan harga bahan baku
ILUSTRASI. PICO Targetkan Pendapatan Tahun Ini Naik 5%

Reporter: Krisantus de Rosari Binsasi | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pelangi Indah Canindo Tbk (PICO) terus berupaya untuk memperbaiki kinerjanya. Produsen tabung gas dan drum ini masih belum mencatatkan kinerja terbaik pada kuartal III-2018 lalu.

Rubianto, Direktur PICO mengatakan, kenaikan harga bahan baku dan naiknya nilai tukar dollar yang berbanding terbalik dengan harga jual membuat kinerja perseroan masih belum sepenuhnya pulih.

Dia menambahkan, harga bahan baku baja tercatat naik 4% dari kuartal II lalu yang sebesar Rp 10.300 per kilogram (kg). Sementara dari Januari hingga September sudah naik 15%.

“Jadi kenaikan harga bahan bakunya sudah dari awal tahun ini dan kami juga tidak bisa serta merta menaikkan harga jual. Ini yang membuat pendapatan kami cuma naik sedikit dan laba bersih masih ada sedikit penurunan,” tuturnya kepada kontan.co.id, Senin (17/12).

Untuk diketahui, pada periode sembilan bulan pertama 2018, PICO membukukan pendapatan sebesar Rp 584,28 miliar atau naik 1,07% dari Rp 578,08 miliar pada periode yang sama di tahun 2017.

Beban pokok pendapatan juga naik 1,05% year on year (yoy) menjadi Rp 506,62 miliar. Alhasil laba bersih masih turun tipis 2,4% yoy menjadi Rp 14,19 miliar pada triwulan ketiga tahun ini.

Lebih lanjut Rubianto menyatakan bahwa untuk memperbaiki kinerja di akhir 2018, pihaknya bakal melakukan efisiensi secara internal dengan menggunakan mesin otomatis sehingga pengerjaan lebih efisien dan lebih cepat.

“Sebelumnya mesin-mesin kami masih menggunakan sistem manual dan ditangani dengan bantuan para karyawan. Dan karena sudah ada mesin otomatis maka sebagian karyawan akan dipindahkan ke lokasi pabrik baru di Cikupa yang akan mulai beroperasi penuh di kuartal I 2019. Tapi pengadaan mesinnya sudah mulai dilakukan di tahun ini,” lanjutnya.

Untuk memuluskan rencana tersebut, tahun ini PICO menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) senilai Rp 300 miliar dari kas internal dan pinjaman bank.

Rubianto menjelaskan bahwa capex tersebut telah diserap sekitar 50% digunakan untuk penambahan dan peremajaan mesin.

“Untuk mesin pail cain sebesar Rp 9 miliar, mesin steel printing sebesar Rp 45 miliar, mesin drum steel sebesar Rp 30 miliar dan mesin drum plastik sebesar Rp 60 miliar,” paparnya.

Sementara untuk capex tahun depan, PICO bakal menganggarkan capex sebesar Rp 30 miliar hingga Rp 50 miliar yang sumbernya dari kas internal dan pinjaman bank.

Rubiyanto beralasan capexnya lebih sedikit karena hanya akan dipakai untuk perawatan mesin. “Pengadaan mesinnya sudah dilakukan di tahun 2018 ini, sehingga tahun depan kami hanya lakukan maintenancenya saja,” tambahnya.

Dengan adanya regenerasi dan penambahan mesin di 2018, maka perseroan berharap kinerja di akhir tahun nanti bakal kembali membaik. “Di akhir 2018 kita targetkan pertumbuhan penjualan naik 8% dan laba bersih naik di kisaran 2,5% hingga 3%,” pungkasnya.
 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×