Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada pekan depan, meskipun optimisme pasar sempat meningkat setelah Indonesia berhasil mempertahankan status sebagai negara berkembang (Emerging Market) dalam tinjauan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Jumat (19/6/2026), kurs rupiah spot melemah Rp 10 atau 0,06% menjadi Rp 17.804 per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, kurs rupiah spot masih menguat 0,31% dari posisi Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026) lalu.
Kurs rupiah Jisdor hari ini justru stagnan di angka Rp 17.826 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor masih menguat 0,53% dari posisi Rp 17.921 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Angkat Prospek Emiten Digital, Saham Mana Paling Menarik?
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpandangan sentimen domestik yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir berasal dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga itu menyatakan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review.
Keputusan ini diambil setelah MSCI kembali menyuarakan kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar saham tanah air. Penurunan peringkat ini mencerminkan minimnya transparansi pada data kepemilikan saham dan aktivitas pasar.
"Kondisi tersebut dinilai merusak proses pembentukan harga yang wajar serta membatasi kemampuan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan tercatat," ujar Ibrahim, Jumat (19/6/2026).
Selain itu, MSCI juga menyoroti keterbatasan pasar valuta asing Indonesia. Tidak adanya pasar mata uang lepas pantai (offshore) yang efisien serta berbagai pembatasan di pasar valuta asing domestik dinilai masih menjadi hambatan bagi investor asing.
Namun, MSCI mengumumkan posisi Indonesia masih berada di level negara berkembang atau Emerging Market, karena Indonesia mendapat sejumlah keunggulan pada aspek keterbukaan pasar.
"Hal itu menjadi salah satu faktor MSCI masih mempertahankan Indonesia di kelas negara berkembang, setelah sempat memberikan sinyal penurunan kelas sehingga membuat pasar kembali optimistis arus modal asing akan kembali membanjiri pasar keuangan Indonesia," lanjut Ibrahim.
Baca Juga: Harga Batubara Stabil, Pemulihan Kinerja Baramulti (BSSR) Diperkirakan Berlanjut
Dari sisi eksternal, perhatian pasar masih tertuju pada arah kebijakan moneter bank sentral AS. Ibrahim menyoroti bahwa sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun ini.
Menurutnya, sinyal tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama. Meski Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhir, pernyataan pejabat The Fed dinilai bernada hawkish dan mendorong penguatan dolar AS.
Kondisi tersebut turut mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah AS dan membawa indeks dolar AS ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Alhasil, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih menghadapi tekanan.
Dengan berbagai faktor di atas, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak cenderung melemah dalam rentang Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS sepanjang pekan depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













