kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Sri Mulyani kritik kinerja BEI tahun lalu


Selasa, 03 Januari 2017 / 13:18 WIB


Reporter: Hasyim Ashari | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengkritik kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait minimnya jumlah perusahaan yang melaintai di bursa pada tahun 2016. Meskipun kenaikan IHSG di akhir periode memiliki prestasi yang bagus.

Tercatat, di tahun 2016 jumlah perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) hanya 16 emiten dari target yang ditetapkan yaitu 25 perusahaan. Padahal target ini sudah direvisi dari angka sebelumnya yang mencapai 35 perusahaan.

Ani, sapaan akrab Menteri Keuangan mengatakan angka perusahaan yang ikut IPO merupakan terendah dalam kurun waktu 7 tahun terakhir. "Kalau kapitalis naik tajam karena perusahaan lama itu bukan indikator sehat. Kami harap kapitalis naik karena perusahaan yang masuk bursa naik," ujar Ani di pembukaan bursa, Selasa (3/1).

Dia mendorong agar memperbaiki segala peraturan yang menghambat perusahaan masuk bursa. Bahkan, seharusnya perusahaan masuk bursa itu sifatnya bukan esklusif lagi melainkan inklusif. Jadi semua perusahaan baik besar maupun kecil, baik di daerah maupun di pusat, semuanya bisa masuk bursa.

Semakin banyak perusahaan yang masuk bursa, semakin bagus. Sebab kondisi bursa merefleksikan kondisi perekonomian secara umum. Untuk itu, BEI dapat berfungsi sebagai jembatan untuk memfasilitasi kebutuhan investasi di dalam negeri.

Apalagi di tengah kondisi global yang masih berada dalam ketidak pastian, negara-negara yang menjadi motor pergerakan ekonomi juga belum stabil tentunya investasi sangat dibutuhkan untuk menggenjot perekonomian. "Ini harus direspon dengan memperkuat domestik," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×