kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45714,31   4,95   0.70%
  • EMAS913.000 0,55%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN -0.19%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.21%

Skenario terburuk prospek saham Perusahaan Gas Negara (PGAS)


Kamis, 06 Februari 2020 / 22:54 WIB
Skenario terburuk prospek saham Perusahaan Gas Negara (PGAS)
ILUSTRASI. Teknisi memeriksa jaringan gas di Mobile Refueling Unit (MRU) milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/12/2019).

Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) akhirnya kembali rebound setelah beberapa waktu belakangan ini terus tertekan. Saham perusahaan pelat merah ini ditutup menguat 45 poin atau setara 3,05% pada perdagangan hari ini, Kamis (6/2).

Namun, penurunan yang sempat membuat harga saham PGAS menyentuh level terendah selama tiga tahun tersebut membuat saham ini masih memberikan return negatif baik secara mingguan, bulanan, bahkan sejak awal tahun.

Baca Juga: PGN (PGAS) terus memacu pembangunan infrastruktur gas bumi

Dalam sepekan terakhir, saham PGAS turun 15,56%. Selama satu bulan terakhir, penurunannya sebesar 27,62%. Sedangkan sejak awal tahun, PGAS masih memberikan return minus 29,95%.

Untuk di setiap periode yang sama, saham PGAS juga rutin masuk dalam daftar saham yang banyak dijual investor asing. "Ini akibat keputusan pemerintah yang pada akhirnya menurunkan harga gas industri," ujar Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital.

Investor melihat, keputusan tersebut berpotensi menggerus laba PGAS yang akhirnya merugikan pemegang saham publik. Dia menambahkan, ada 43% saham PGAS yang dimiliki publik. Seharusnya, hal tersebut menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengatur harga gas.

Baca Juga: Net buy asing Rp 557,61 miliar, IHSG berakhir naik hampir 1%

Di sisi lain, harga gas di hulu sejatinya lebih mahal, bahkan mencapai 70% dari struktur cost PGAS. “Pemerintah punya ruang besar untuk menurunkan tanpa membebani PGAS,” imbuh Alfred.

Timothy Gracianov, analis Kresna Sekuritas mengatakan, penurunan harga gas yang diterapkan pemerintah awal April nanti merupakan skenario terburuk. Dia menghitung, dengan penurunan itu, rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) gas yang didistribusikan PGAS tahun ini menyusut menjadi US$ 7,8/mmbtu.

Padahal, ASP sepanjang sembilan bulan 2019 mencapai US$ 8,5/mmbtu. "Hasilnya, ada potensi pendapatan yang hilang mencapai US$ 230 juta," ujar Timothy dalam riset 5 Februari.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×