kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45994,16   -8,36   -0.83%
  • EMAS1.136.000 0,26%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sinyal window dressing muncul


Minggu, 10 Desember 2017 / 17:15 WIB
Sinyal window dressing muncul


Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Volume transaksi sejumlah saham emiten BUMN akhir pekan lalu mendadak menebal. Rumornya, sejumlah institusi keuangan ramai-ramai memborong saham-saham tersebut.

Misalnya, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada penutupan perdagangan Jumat (8/12), volume transaksinya mencapai 45,31 juta saham. Jumlah ini melompat hampir dua kali lipat dibanding volume tertinggi yaitu 26,74 juta saham pada 6 Desember lalu.

Tak ketinggalan saham PT Indofarma Tbk (INAF). Jika selama ini volume transaksi saham INAF rata-rata hanya ratusan ribu saham, maka pada Rabu (6/12) volumenya mencapai 6,39 juta saham. Sehari berikutnya, volumenya sebesar 1,77 juta saham. Pada Jumat (8/12), volume transaksi saham INAF mencapai 5,78 juta saham.

Begitu pula, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) juga mencatat lonjakan volume transaksi. Volume transaksi tertinggi pekan ini terjadi pada tanggal Kamis (7/12), di mana volumenya mencapai 11,19 juta saham. Sementara, Jumat, volume transaksinya sebesar 5,87 juta saham. Padahal, awal pekan ini volume transaksi KAEF hanya 152.000 saham.

Analis First Asia Capital David Sutyanto mengatakan, mungkin saja window dressing telah dimulai. "Dari sisi waktu, pekan ini yang paling pas," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (8/12).

Pasalnya, hari perdagangan secara penuh tinggal tersisa pekan ini dan pekan depan. Pekan berikutnya sudah memasuki hari raya Natal sehingga hari perdagangan sudah kurang efektif.

"Kalau window dressing terjadi akhir tahun juga kecil kemungkinannya, karena asing juga sudah banyak libur. Jadi, dari segi waktu saat ini memang yang paling pas," jelasnya.

Okky Jonathan, analis Erdhika Elit Sekuritas menambahkan, dari segi harga, saham-saham tersebut juga cocok untuk dibeli. Pasalnya, secara teknikal selama empat tahun terakhir indeks cenderung terkoreksi. Dalam kondisi seperti ini, tak haram para trader untuk ikut masuk. Tapi, David bilang kecermatan juga tetap diperlukan.

"Cari yang potensi kenaikan harganya paling tinggi," ujarnya.

Menurutnya, TINS paling menarik. Sebab, TINS tengah diguyur oleh sentimen menguatnya harga komoditas tahun depan. Ia merekomndasikan buy saham TINS dengan target harga Rp 850 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×