Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja emiten perkebunan kelapa sawit PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) tercatat positif di tahun 2025, didorong integrasi hilir dan peningkatan harga komoditas.
Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 9,66 triliun sepanjang tahun 2025. Ini naik 50,15% secara tahunan dari Rp 6,43 triliun di tahun 2024.
Segmen produk turunan kelapa sawit menyumbang Rp 4,91 triliun dan segmen produk kelapa sawit Rp 4,75 triliun. Sementara, secara pasar geografis, penjualan lokal Rp 6,31 triliun dan ekspor Rp 3,35 triliun.
Baca Juga: Anak Usaha Waskita Karya (WSKT) Dapat Permohonan PKPU, Ini Detailnya
Manajemen Sumber Tani Agung Resources mengungkapkan, raihan sepanjang 2025 merupakan pendapatan tertinggi perseroan sepanjang masa.
“Ini didukung oleh harga komoditas yang lebih kuat di sektor crude palm kernel (CPO), palm kernel (PK), dan crude palm kernel oil (CPKO), serta kontribusi awal dari operasi kilang yang mulai beroperasi pada tahun 2025,” ujarnya dalam dokumen Buletin Investor di laman resmi perseroan, dikutip Rabu (18/3/2026).
STAA mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar Rp 1,6 triliun sepanjang 2025, naik 25,27% secara tahunan (YoY) dari Rp 1,28 triliun.
“Peningkatan ini mencerminkan efisiensi operasional yang berkelanjutan dan peningkatan kontribusi pendapatan dari integrasi hilir,” katanya.
EBITDA tumbuh 23,2% YoY menjadi Rp 2,76 triliun dan laba kotor meningkat 45,0% YoY menjadi Rp 3,17 triliun. Raihan itu didukung oleh harga jual rerata alias average selling price (ASP) yang lebih tinggi dan bauran produk yang lebih baik.
Total aset meningkat 18,3% YoY menjadi Rp 9,56 triliun pada tahun 2025, dibandingkan dengan Rp 8,084 triliun pada tahun 2024. Ini menunjukkan ekspansi bisnis dan investasi operasional yang berkelanjutan.
Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga, IHSG Berpotensi Rebound Terbatas di Tengah Sentimen Wait and See
Total liabilitas berada di angka Rp 2,56 triliun, sementara total ekuitas meningkat 18,7% menjadi Rp 7 triliun. Rasio utang terhadap aset ada di angka 0,27, sementara rasio utang terhadap ekuitas di angka 0,37.
“Ini memperlihatkan neraca konservatif STAA dan struktur modal yang disiplin,” ungkap manajemen STAA.
STAA memiliki kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp 1,98 triliun pada akhir Desember 2025, naik dari Rp 1,31 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













