Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham emiten kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) tampak menguat dalam beberapa waktu terakhir.
Tengok saja, melansir RTI pada Rabu (29/7/2026) pukul 10.05 WIB, saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 8,79% dalam sebulan terakhir.
Kemudian, dalam sebulan belakangan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) naik 5,06%, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 18,92%, PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) 19,85%, dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) 14,54%.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, penguatan saham-saham CPO dalam sebulan terakhir didorong oleh kombinasi faktor fundamental dan sentimen.
Dari sisi fundamental, harga CPO global masih relatif bertahan pada level yang menguntungkan, sehingga ekspektasi terhadap margin dan profitabilitas emiten perkebunan ikut membaik.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Cetak Pendapatan dan Laba Bersih Naik di Semester I-2026
“Selain itu, penurunan stok sawit Indonesia akibat tingginya konsumsi domestik dan ekspor turut memberikan dukungan terhadap prospek harga CPO,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (28/7/2026).
Di sisi lain, kebijakan peningkatan bauran biodiesel (B50) di Indonesia dipersepsikan positif karena berpotensi meningkatkan permintaan domestik CPO. Namun, implementasi B50 ini tetap akan bergantung pada kondisi harga energi dan skema subsidi pemerintah.
Research Associate Panin Sekuritas Panin Sekuritas Luthfi Novardiansyah menjelaskan, penguatan saham-saham CPO juga turut didukung oleh sentimen penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bulan Juli sebesar +8,64% month to date (MtD) yang menjadikan penguatan pertama kali secara bulanan di 2026.
Nafan melihat, kenaikan saham CPO masih berpotensi berlanjut selama harga CPO mampu bertahan di level yang relatif tinggi, tidak terjadi penurunan produksi yang drastis, dan sentimen terhadap komoditas tetap kondusif.
Namun, investor juga perlu mewaspadai potensi profit taking apabila harga CPO mulai terkoreksi akibat kenaikan produksi musiman atau pelemahan permintaan global.
Prospek kinerja fundamental emiten CPO hingga akhir 2026 juga dinilai masih cukup positif.
“Selama harga jual rata-rata (ASP) CPO tetap berada pada level yang menguntungkan dan biaya produksi dapat dijaga, emiten perkebunan masih memiliki ruang untuk mempertahankan pertumbuhan laba,” ungkapnya.
Lutfi bilang, sentimen positif dari faktor eksternal masih didukung oleh penguatan harga CPO global di level MYR4.673 per ton, naik 15,38 year to date (YTD), seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum mereda.
“Beberapa emiten seperti DSNG dan TAPG memiliki tingkat produksi tandan buah segar (TBS) yang relatif tinggi dibandingkan peers-nya sebesar lebih dari 20 ton per hektare,” paparnya.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menambahkan, prospek sektor CPO hingga akhir 2026 masih relatif positif. Dari sisi fundamental, harga CPO diperkirakan akan menguat pada semester II 2026, didukung implementasi penuh B50 dan meningkatnya dampak El Niño.
Imam pun merekomendasikan beli untuk TAPG dengan target harga Rp 2.100 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














