Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah dibayangi oleh risiko aliran modal keluar seiring menguatnya spekulasi suku bunga tinggi global, sehingga pasar kini menanti efektivitas bauran kebijakan Bank Indonesia.
Melansir Bloomberg pada Rabu (21/10/2026), rupiah spot ditutup melemah 0,17% atau 30 poin ke level Rp 18.022 per dolar Amerika Serikat (AS). Berbeda, rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) justru mencatatkan penguatan 0,11% menjadi Rp 17.986 dari posisi sebelumnya Rp 18.006 per dolar AS.
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan, rupiah hari ini (21/10/2026) berpotensi bergerak fluktuasi yang dipengaruhi oleh kombinasi rilis indikator ekonomi AS yang menguatkan spekulasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer).
"Ekspektasi ini menjaga yield US Treasury tetap atraktif, sehingga memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia," terang Rahma kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).
Baca Juga: Cermati Arah IHSG Usai Bank Indonesia Menahan Suku Bunga di Level 5,75%
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah terus mendikte harga energi dunia untuk bertahan pada level yang relatif tinggi.
Situasi ini memberikan sentimen risk-off yang memicu masifnya tekanan jual oleh investor asing di pasar saham maupun instrumen portofolio domestik, sekaligus menambah beban risiko pada defisit neraca perdagangan migas.
Di tengah derasnya sentimen global tersebut, fokus pasar kini tertuju penuh pada respons kebijakan domestik pasca BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate. Keputusan ini membuat pelaku pasar menantikan sinyal intervensi lanjutan guna menjaga daya tarik aset rupiah.
"Langkah stabilisasi nilai tukar melalui instrumen DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), intervensi pasar valas secara spot, serta optimalisasi instrumen moneter pro-market oleh Bank Indonesia akan terus dicermati pasar untuk melihat seberapa kuat ketahanan rupiah menahan level psikologis di kisaran Rp18.000 per dolar AS," ungkap Rahma.
Rahma memproyeksikan, rupiah akan berfluktuasi dalam rentang yang cenderung ketat dan terbatas. Ia menakar nilai tukar rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.000 per dolar AS untuk perdagangan hari ini (22/10/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














