Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 353 juta. Capex tersebut diperkirakan mampu membuat kinerja PGAS stabil di tahun 2026.
PGAS membukukan pendapatan sebesar US$ 2,9 miliar per September 2025, naik 3,8% secara year on year (yoy). Sedangkan laba bersih tercatat sebesar US$ 237,9 juta, turun 9,68% secara yoy.
Timothy Handerson, Analis UBS Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa PGAS memandu belanja modal (capex) tahun 2026 sebesar US$ 353 juta (naik 14% yoy) dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar US$ 311 juta. Ini sedikit di bawah ekspektasi UBS Sekuritas sebesar US$ 384 juta pada tahun 2026.
“Kami memperkirakan rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi sekitar 90% pada tahun 2026 dan 100% pada tahun 2027 (dibandingkan 80% pada tahun 2025), yang diterjemahkan menjadi imbal hasil dividen sekitar 10% - 12% per tahun, meskipun panduan manajemen yang konservatif memperkirakan rasio pembayaran dividen sekitar 60% - 80% untuk tahun 2026,” jelas Timothy dalam risetnya pada 22 Januari 2026.
Baca Juga: Batam Jadi Awal, Danantara Genjot Jargas Perusahaan Gas Negara (PGAS)
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, risiko utama yang perlu dicermati terkait PGAS berasal dari ketatnya pasokan gas akibat penurunan lifting upstream, potensi tekanan margin dari regulasi harga, serta kenaikan biaya operasional.
Menurutnya, fokus pasar pada kebijakan harga dan alokasi gas, realisasi volume niaga gas industri, serta dividend yield yang tetap menarik.
“Kinerja PGAS kuartal I-2026 diperkirakan stabil cenderung moderat, ditopang kenaikan volume transmisi gas dan kontribusi LNG regasifikasi (Arun & FSRU Lampung), meski pertumbuhan laba terbatas akibat margin yang belum pulih penuh,” ujar Sukarno kepada Kontan, Kamis (5/2/2026).
Sementara itu, Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas Asia mengatakan, di tengah percepatan penetrasi energi terbarukan, gas tetap diposisikan sebagai bahan bakar jembatan kritis untuk menjaga keandalan sistem dan stabilitas beban dasar.
Ini memperkuat pentingnya peran strategis PGAS sebagai operator transmisi dan distribusi gas yang dominan di Indonesia.
Penurunan produksi hulu dari ladang yang sudah matang diperkirakan akan memperlebar kesenjangan pasokan domestik, dengan permintaan gas pelanggan PGAS diproyeksikan tumbuh sekitar 2% sampai 3% per tahun.
Baca Juga: Pasokan Gas Perusahaan Gas Negara (PGAS) Terganggu, Simak Rekomendasi Sahamnya
“Akibatnya, pangsa Liquefied Natural Gas (LNG) dalam campuran pasokan gas ditetapkan untuk meningkat dari sekitar 10% pada tahun 2024 menjadi sekitar 18% - 20% pada tahun 2026, didukung oleh hingga 19 kargo LNG sambil menunggu proyek hulu baru seperti Masela, Andaman, dan Pengembangan Perairan Dalam Indonesia (IDD) menjelang akhir tahun 2020-an,” ujar Rizal dalam risetnya pada 3 Februari 2026.
Rizal melihat pergeseran ini terjadi dalam kerangka harga yang diatur, di mana harga gas nasional rata-rata dibatasi sekitar US$ 8,3 per Million Metric British Thermal Units (MMBTU), dengan pengguna industri membayar US$ 3 – US$ 6 per MMBTU.
Sehingga keterjangkauan LNG dan strategi pencampuran yang efektif sangat penting untuk mencegah peralihan bahan bakar ke alternatif seperti Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan bensin yang tidak disubsidi.
Secara operasional, PGAS memandu pertumbuhan volume yang tangguh pada tahun 2026, dengan volume perdagangan gas ditargetkan pada 877 Billion British Thermal Units per Day (BBTUD), naik 4% yoy dan transmisi gas meningkat menjadi 1.620 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD), naik 4% yoy.
Proyeksi peningkatan itu didorong oleh permintaan industri dan perluasan jaringan di Jawa dan Sumatra. Volume regasifikasi dipandu sedikit lebih rendah pada 219 BBTUD dibanding 227 BBTUD di 2025.
Ini seiring dengan optimalisasi pemanfaatan LNG, dengan LNG menyumbang 20% dari pasokan (vs 80% gas pipa).
Lifting minyak dan gas hulu diproyeksikan meningkat menjadi 19.162 Barrel of Oil Equivalent per Day (BOEPD), naik 16% yoy, didukung oleh kegiatan pengeboran dan perbaikan sumur.
Sementara volume transportasi minyak secara umum tetap stabil di 175.011 BOEPD dan volume pengolahan LPG menurun menjadi 100 Ton per Day (TPD) (turun 12% yoy) sebagai bagian dari rasionalisasi portofolio.
Rizal memproyeksikan pendapatan dan laba bersih PGAS tahun 2025 masing-masing mencapai US$ 3,79 miliar dan US$ 320 juta. Pendapatan dan laba bersih PGAS tahun 2026 diprediksi mencapai US$ 3,91 miliar dan US$ 361 juta.
Adapun pada tahun 2024, PGAS mengantongi pendapatan US$ 3,78 miliar dan laba bersih US$ 339 juta.
Rizal dan Timothy merekomendasikan Buy saham PGAS dengan target harga masing-masing Rp 2.500 per saham dan Rp 2.400 per saham. Sementara Sukarno merekomendasikan Trading Buy saham PGAS dengan target harga Rp 2.310 – Rp 2.500 per saham.
Selanjutnya: Sasar Sektor Informal, DPLK Avrist Luncurkan Aplikasi Dana Pensiun SiPURNA
Menarik Dibaca: 4 Manfaat Konsumsi Serat bagi Kesehatan Tubuh yang Luar Biasa
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













