Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah kembali mewacanakan pungutan cukai untuk produk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Namun, penerapan cukai tersebut akan dijalankan apabila pertumbuhan ekonomi mampu tumbuh 6% pada kuartal II-2026.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai penerapan kebijakan tersebut masih berpeluang terjadi, mengingat secara historis pertumbuhan ekonomi kerap mencatat basis yang lebih tinggi pada periode tersebut.
Meski momentum konsumsi seperti Ramadan, Imlek, dan Lebaran berlangsung pada kuartal I-2026, peluang pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 tetap terbuka lebar.
Nafan bilang, pemerintah juga perlu terlebih dahulu mencermati kondisi di lapangan serta respons masyarakat sebelum benar-benar menerapkan kebijakan cukai MBDK tersebut.
"Kebijakan pungutan cukai bisa jadi (diterapkan) tetapi pemerintah harus melihat kondisi di lapangan terlebih dahulu. Mereka harus melihat respons dari masyarakat seperti apa," kata Nafan kepada Kontan, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: Mitra Distribusi Optimalkan Penjualan ORI029
Nafan juga menerangkan, kebijakan ini diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap produsen susu dan minuman segar, kecuali untuk produk yang mengandung tambahan pemanis. Oleh karena itu, dampaknya akan sangat bergantung pada segmentasi produk.
"Jadi kita lihat segmentasinya. Sejauh ini kan permintaan susu segar masih tinggi dan masih dominan untuk PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), sehingga masih bisa dijaga marjinnya," tambah Nafan.
Selain itu, kekuatan merek ULTJ, khususnya produk Ultra Milk, membuat produknya tetap memiliki penerimaan yang baik di pasar.
Nafan menerangkan loyalitas merek pada brand Ultra Milk membuat perusahaan memiliki pricing power. Artinya, jika ada kenaikan biaya bahan baku, ULTJ relatif lebih mudah menaikkan harga jual tanpa kehilangan banyak pelanggan dibandingkan kompetitornya.
Selain itu, ULTJ juga menerapkan strategi terkait modernisasi distribusi. Investasi ULTJ pada pusat distribusi otomatis di MM2100 dan penambahan kapasitas gudang mulai memberikan efisiensi pada beban operasional di tahun ini.
Sementara itu, Investment Analyst Edvisor Provina Visindo, Indy Naila, memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, kenaikan harga jual produk akibat penerapan cukai berpotensi menekan permintaan, yang pada akhirnya dapat menurunkan volume penjualan dan menggerus profitabilitas perusahaan.
Dalam menghadapi potensi penerapan cukai tersebut, Indy menilai ULTJ perlu melakukan penyesuaian harga secara bertahap agar margin tetap terjaga.
"Lalu fokus juga ke produk dengan segmen menengah atas atau branded sehingga bisa menjaga margin," tambah Indy.
Nafan merekomendasikan accumulative buy saham ULTJ di target harga Rp 1.580 per saham. Sementara, Indy menilai pergerakan saham ULTJ cenderung moderat, sehingga rekomendasi yang diberikan ialah hold dengan target harga di level Rp 1.580 per saham.
Secara teknikal, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat pergerakan ULTJ sedang berada di fase uptrendnya meskipun melandai.
"Pergerakan ULTJ pun masih didominasi oleh volume pembelian. Indikator MACD masih menguat di area positif, meskipun Stochastic nampaknya cenderung flat di area netral," ujar Herditya.
Herditya menyarankan trading buy saham ULTJ dengan target harga Rp 1.580 hingga Rp 1.600 per saham. Ia juga melihat level support ULTJ berada di level Rp 1.500 dan resistance Rp 1.560 per saham.
Selanjutnya: Juda Agung Beberkan Pesan Presiden Prabowo Setelah Dilantik Jadi Wamenkeu
Menarik Dibaca: 4 Zodiak Paling Red Flag, Ada yang Terlalu Posesif dan Tidak Konsisten!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Analisis Saham
- Ultrajaya Milk Industry
- Mirae Asset Sekuritas
- MNC Sekuritas
- saham ULTJ
- minuman berpemanis dalam kemasan
- Industri Minuman
- Cukai MBDK
- Strategi Perusahaan
- Edvisor Provina Visindo
- pricing power
- Pajak Gula
- ULTJ Rekomendasi Saham
- Harga Saham ULTJ
- Investasi Saham MBDK
- Dampak Cukai
- Loyalitas Merek













