Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Gejolak pasar saham di Indonesia diprediksi belum berakhir pada April 2026. Ada kemungkinan investor asing keluar dari pasar saham domestik. Hal ini menyusul pengumuman terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah merampungkan empat agenda reformasi pasar modal sesuai dengan yang diajukan ke MSCI.
Yakni, pertama, penyediaan data kepemilikan saham perusahaan terbuka di atas 1% kepada publik. Kedua, peningkatan kualitas data investor melalui granularitas klasifikasi investor.
Ketiga, kenaikan batas minimum free float dari 7,5% menjadi 15% dan terakhir pengumuman saham high shareholding concentration (HSC) atau saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi.
Namun aksi ini berpotensi MSCI memangkas bobot saham Indonesia di indeksnya. Padahal, ada saham HSC yang masuk ke indeks MSCI, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
Baca Juga: 9 Saham Termasuk BREN DSSA RLCO Dikuasai Investor Tertentu, Saatnya Jual / Tahan?
Pjs. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menjelaskan ada kemungkinan saham yang sudah masuk dalam indeks global akan dikeluarkan atau diturunkan bobotnya usai transparansi yang dilakukan.
“Jadi bisa saja ada potensi, misalnya potensi penurunan bobot untuk saham-saham Indonesia, baik dari hasil analisis granularity maupun high shareholding concentration,” katanya, Kamis (2/4/2026).
Namun Jeffrey meyakini dalam jangka panjang akan baik bagi pasar saham Indonesia dan akan membuat bobot saham-saham Indonesia akan menjadi jauh lebih tinggi di masa mendatang.
“Tentu pasar akan punya mekanisme untuk melihat dan pasar selalu forward looking. Kalau pasar meyakini dalam jangka panjang ini suatu yang baik, saya kira pasar akan respon positif,” tuturnya.
Dia bilang terlepas dari potensi penurunan bobot, bisa saja pasar akan bereaksi positif. Jeffrey menegaskan apa yang dilakukan BEI bersama OJK ini bukan membuat pasar naik atau turun.
Tonton: 10,6 Juta Wajib Pajak Sudah Lapor SPT 2025, Coretax Tembus 17,6 Juta Akun
Berdasarkan catatan IPO Platinum Club, saham yang berada dalam indeks MSCI dan masuk dalam daftar high shareholding concentration berpotensi langsung dikeluarkan oleh MSCI dari indeks dan tidak bisa lagi masuk dalam waktu 12 bulan.
“Bagi saham baru yang masuk ke dalam high shareholding concentration akan dipastikan tidak bisa masuk ke dalam indeks MSCI,” tulis tim analis IPO Platinum Club dalam catatannya, Kamis (2/4/2026).
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai pengumuman high shareholding concentration sangat penting karena ini memberikan peringatan kepada investor bahwa suatu saham dimiliki oleh segelintir pihak, sehingga risikonya tinggi.
Menurutnya, dalam jangka panjang, kebijakan ini akan membuat kualitas emiten di bursa meningkat karena emiten dipaksa untuk memiliki struktur pemegang saham yang lebih sehat dan free float yang lebih besar.
“Jika kualitas emiten meningkat dan likuiditas meningkat, maka valuasi pasar juga bisa meningkat karena investor asing biasanya berani membayar lebih mahal untuk pasar yang transparan dan likuid,” katanya kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













