kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Serangan teroris turut menggempur harga tembaga


Senin, 16 November 2015 / 16:19 WIB


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Harga tembaga kian meredup. Di tengah sepinya permintaan, harga tembaga turut tergempur oleh aksi terorisme di Paris yang disusul serangan Prancis terhadap Suriah.

Mengutip Bloomberg, Senin (16/11) pukul 10.42 WIB, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange turun tipis 0,2% ke level US$ 4.815 per metrik ton. Dalam sepekan terakhir, harga tembaga menyusut 3%.

China sebagai konsumen terbaga terbesar di dunia menghadapi penurunan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Stephen Huang, Chief Excecutive Officer dari Trading House Arc Resources Co menyatakan, pengiriman tembaga ke China akan menyusut 10% di tahun 2016 seiring dengan lemahnya pemrintaan.

Dalam sembilan bulan tahun ini, pengiriman tembaga ke Negeri Panda sudah menyusut 4% menjadi 2,55 juta ton. Melemahnya ekonomi China membuat penggunaan tembaga anjlok 24% sepanjang tahun ini atau angka terendah sejak 2009.

Harga tembaga sempat jatuh ke US$ 4.783 per metrik ton atau level terendah sejak Juli 2009. Andri Hardianto, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures mengatakan, harga tembaga tidak bisa lepas dari faktor supply dan demand.

Oleh karena itu, Andri melihat tembaga sulit keluar dari tekanan hingga akhir tahun ini. Tekanan semakin besar lantaran adanya spekulasi kenaikan suku bunga The Fed akhir tahun ini.

Dengan berbagai sentimen negatif Andri menebak harga tembaga bisa jatuh ke US$ 4.600 per metrik ton di penghujung tahun 2015. "Dari data yang ada masih menujukkan lemahnya permintaan, apalagi isu kenaikan suku bunga The Fed semakin kuat," imbuhnya.

Kondisi keamanan di Eropa pasca serangan teroris di kota Paris semakin menambah kekhawatiran investor. Apalagi, Prancis membalas serangan teroris dengan meluncurkan serangan ke Suriah.

Aksi serangan ini terjadi di tengah kondisi ekonomi dunia yang rapuh serta ketidakstabilan di Timur Tengah. Imbasnya, para investor menarik dana mereka dari portofolio beresiko termasuk tembaga dan mengalihkan investasinya ke emas dan dollar AS.

Andri menduga, isu keamanan di Eropa serta spekulasi kenaikan suku bunga The Fed akan membayangi pergerakan tembaga dalam sepekan ke depan. Turunnya GDP zona Euro serta belum pulihnya performa industri Eropa juga turut menjadi sentimen negatif bagi tembaga.

Optimisme terhadap program stimulus ekonomi Bank Sentral Eropa (ECB) pun kini mulai hilang. "Pekan ini tembaga masih dalam tren bearish. Jika ada kenaikan hanya technical rebound," lanjut Andri.

Secara fundamental, harga tembaga belum dapat pulih selama performa ekonomi di Eropa dan China masih melambat. Namun, di awal tahun depan tembaga berpeluang naik lantaran adanya Januari effect, dimana secara psikologis pelaku pasar memiliki optimisme terhadap kondisi perdagangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×