Reporter: Wahyu Satriani | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Lelang pembelian kembali surat utang negara (SUN) dengan cara penukaran alias debt switch sepi peminat. Pemerintah hanya menerima penawaran empat seri SUN senilai Rp 216 miliar pada lelang yang digelar Kamis (10/9). Rincian penawaran yang masuk dari investor: seri FR0030 sejumlah Rp 55 miliar, FR0060 senilai Rp 45 miliar. Seri FR0028 senilai Rp 111 miliar. Terakhir, seri FR0038 senilai Rp 5 miliar. Padahal, dalam lelang debt switch tersebut, pemerintah membuka kesempatan bagi investor menukarkan enam seri SUN.
Rencananya, obligasi itu akan ditukar dengan dua seri berbeda, yaitu FR0053 yang jatuh tempo per 15 Juli 2021, dan FR0073 yang jatuh tempo 15 Mei 2031. Asal tahu saja, dua seri penukar tersebut digadang-gadang sebagai calon seri acuan alias benchmark tahun depan.
Nah, dari jumlah penawaran yang masuk, pemerintah hanya menyerap satu seri, yaitu FR0030 senilai Rp 55 miliar. Surat utang itu akan jatuh tempo pada 15 Mei 2016. Investor meminta yield rata-rata tertimbang sebesar 8,06%. Kemudian, pemerintah menukar seri tersebut dengan seri FR0073 berkupon 8,75%. Surat utang ini bertenor lebih panjang dengan periode jatuh tempo 15 Mei 2031.
Analis Fixed Income BNI Securities I Made Adi Saputra menilai, pemerintah kurang agresif menyerap penawaran, karena tingkat harga pembelian kembali yang diminta investor terbilang tinggi. "Buy back dipengaruhi faktor penawaran dari investor dan target harga oleh pemerintah," ujar Made, Kamis (10/9).
Sementara, analis obligasi Sucorinvest Central Gani Ariawan mengatakan, lelang sepi, karena investor masih nyaman memegang seri SUN yang ingin ditukar oleh pemerintah. "Seri-seri SUN tersebut justru masih menarik terutama bagi yang memegang sampe jatuh tempo. Sebab, tenornya jangka pendek, jatuh tempo tersisa beberapa tahun saja," terangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













