kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Sepanjang kuartal I, nikel menukik 3,74%


Senin, 04 April 2016 / 21:20 WIB


Reporter: Namira Daufina | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Jika harga komoditas logam industri lainnya berhasil mendulang kenaikan sepanjang kuartal satu 2016, lain cerita dengan nikel.

Mengutip Bloomberg, Jumat (1/4) harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange terkikis 2,0% ke level US$ 8.320 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Begitu juga sepanjang kuartal satu 2016 ini, harga nikel sudah menukik 3,74%.

“Tekanan datang akibat lemahnya permintaan dari China, padahal China merupakan konsumen terbesar nikel. Efeknya, pasokan berlimpah dan menekan harga,” kata Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka.

Puncaknya, pada 11 Februari 2016 lalu harga nikel menyentuh level terendahnya sejak Maret 2003 lalu di US$ 7.595 per metrik ton.

Itu akibat dari bayang-bayang oversupply yang masih akan menghantui. Sementara keputusan para produsen nikel seperti Global Ferronickel, Glencore Plc dan BHP Billiton diprediksi Goldman Sachs Inc tidak akan membantu banyak bagi harga.

Walau memang pada 7 Maret 2016 lalu harga nikel sama seperti harga komoditas logam industri lainnya menyentuh level tertinggi sejak November 2015 di US$ 9.385 per metrik ton.

“Penyebabnya datang dari prediksi pasar dovish The Fed dan terbentuknya kesepakatan Oil Freeze yang kemudian menopang harga komoditas termasuk nikel,” papar Ibrahim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×