Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
"Dari sisi kinerja keuangan, sebagian emiten second liner masih mencatatkan kerugian atau profitabilitas yang belum stabil. Kenaikan harga saham lebih mencerminkan ekspektasi investor terhadap masa depan," ujarnya.
Ekky memproyeksikan, meski prospek sektor kesehatan tetap positif secara struktural, potensi penguatannya pada 2026 tidak akan seagresif tahun lalu.
Permintaan layanan kesehatan, baik rumah sakit, farmasi, maupun alat kesehatan, diperkirakan tetap stabil dan defensif. Namun, pasar akan lebih selektif, menuntut realisasi pertumbuhan laba, efisiensi operasional, dan return yang jelas dari belanja modal.
Baca Juga: Sektor Mamin Tumbuh 6,15%, Industri Biskuit Diprediksi Stabil
Selain itu, dengan valuasi yang sudah naik pada sebagian saham kesehatan, risiko koreksi jangka pendek perlu diantisipasi.
Ekky menyarankan pendekatan selektif, terutama pada emiten besar seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), yang dinilai memiliki valuasi lebih rasional dan fundamental lebih stabil.
Untuk saham lapis kedua, Ekky menyoroti PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebagai saham yang menarik karena konsisten melakukan ekspansi bisnis.
"Volatilitas saham second liner cenderung tinggi dan sangat sensitif terhadap sentimen pasar, sehingga manajemen risiko menjadi penting," kata Ekky.
Baca Juga: Sejumlah Ekonom Proyeksikan Bisnis Perbankan pada Tahun 2026 Akan Tumbuh Moderat
Sementara itu, Indy menilai PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) masih menarik untuk dikoleksi. Saham MIKA didukung fundamental yang solid dan posisi keuangan kuat, dengan target harga Rp 2.770 per saham.
Selanjutnya: Ledakan Pipa Gas di Inhil Hanguskan Tiga Rumah dan Satu Truk, Warga Selamat
Menarik Dibaca: 6 Makanan yang Bikin Risiko Kanker Meningkat jika Dikonsumsi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













