kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45989,59   -6,37   -0.64%
  • EMAS998.000 -0,60%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Sejumlah Pengendali Melepas Saham Emiten


Kamis, 06 Oktober 2022 / 20:43 WIB
Sejumlah Pengendali Melepas Saham Emiten
ILUSTRASI. Pengendali melego sebagian kepemilikan sahamnya untuk kepentingan investasi.


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi lepas saham emiten-emiten berkapitalisasi kecil tengah marak dilakukan. Pengendali melego sebagian kepemilikan sahamnya untuk kepentingan investasi.

Terdapat beberapa emiten yang sahamnya dijual oleh pengendali sekaligus direksi emiten. Antara lain PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), lalu PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP), serta PT Lancartama Sejati Tbk (TAMA).

Selama bulan September, Bobby Gafur Umar selaku direktur utama Maharaksa Biru tercatat telah menjual saham OASA sebanyak tiga kali yakni pada tanggal 2,7,8 September 2022. 

Pada keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia yang dirilis Kamis (6/10), kepemilikan saham Bobby Gafur telah berkurang menjadi 55,01% dari bulan sebelumnya sebesar 75%.

Baca Juga: Jayamas Medica Industri (OneMed) Akan Menjual 15% Saham Lewat IPO

Sebelumnya, Direktur Utama WMPP Tumiyana juga melakukan aksi serupa. Dia melepas saham emiten peternakan tersebut sebanyak enam kali di bulan Agustus 2022. Kabarnya, aksi jual saham tersebut masih berlanjut pada September 2022, hingga saat ini kepemilikan saham Tumiyana tercatat sebesar 81,24% di WMPP.

Saham TAMA bahkan telah dijual oleh Alex Widjaja sebanyak 13 kali, sejak pertama kali initial public offering (IPO) pada Februari 2020. Pria yang menjabat sebagai direktur utama tersebut telah menjual saham TAMA sebanyak 305,64 juta saham. Terakhir, aksi lepas saham tersebut dilakukan pada 8 September 2022.

Menilai hal ini, Pengamat Pasar Modal William Hartanto mengatakan, sejatinya aksi lepas saham tersebut tidak perlu dipermasalahkan jika hanya melepas sebagian kecil kepemilikan. Apalagi, saham itu ramai diperdagangkan seperti dilakukan oleh petinggi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mendivestasikan saham untuk renovasi rumah.

Baca Juga: Penerus Warren Buffett, Greg Abel, Borong Saham Berkshire

Namun berbeda halnya jika pelepasan ini terjadi dalam jumlah besar. Biasanya, penjualan saham karena ada hal yang tidak menguntungkan bagi investor sehingga pihak manajemen pun melepas lebih dulu.

"Jadi pada dasarnya indikasi dari aksi jual saham itu variatif," terang William kepada Kontan.co.id, Rabu (5/10).

Menurut William, direksi yang melepas kepemilikan sahamnya bisa jadi karena aksi profit taking. Dengan catatan, penjualan pada sejak harga IPO telah mengalami untung.

Investor umumnya memanfaatkan saham IPO yang berpotensi naik cukup tinggi untuk trading jangka pendek dengan membeli di awal-awal alias harga perdana.

Baca Juga: Resesi Ekonomi Global di Depan Mata, Sayonara Bonanza Harga Komoditas

Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat mencermati dari deretan emiten tersebut yakni OASA, WMPP, dan TAMA memang merupakan anggota baru bursa efek. Artinya masih ada sisa-sisa dari keuntungan penjualan saat IPO.

Teguh bilang, pengendali yang rajin melepas saham emitennya itu karena dua alasan. Pertama, pemilik atau dalam hal ini direktur utama mendapatkan persenan sebagai upah telah membawa perusahaan bisa melantai di pasar modal. Kedua, harga saham pada saat IPO bisa disetel setinggi mungkin, bahkan melewati aset dari emiten itu sendiri.

"Dengan kondisi ini, saya sebagai pemilik mending jualan. Jual habis sampai tidak memegang kendali lagi. Biasanya jika lepas kendali sepenuhnya, dapat duit dari investor publik," ujar Teguh kepada Kontan.co.id, belum lama ini.

Teguh menyoroti bahwa ada kekhawatiran dari aksi jual saham ini berdampak pada kinerja emiten-emiten kecil seperti OASA, WMPP dan TAMA. Kemungkinan terburuk bahkan bisa saja terjadi seperti PT HK Metals Utama Tbk (HKMU) yang ditinggalkan oleh pemegang saham pengendali (PSP).

Baca Juga: Bank Siap Penuhi Aturan Free Float

Sementara, William menilai dari sisi kinerja saham bakal tertekan akibat aksi masif jual saham pada emiten-emiten kecil. Namun belum tentu berdampak signifikan pada kinerja laporan keuangan karena bisa jadi hanya aksi profit taking.

Mengutip data RTI (6/10), saham WMPP terpantau memang anjlok sebesar 8,13% selama sebulan terakhir. Saham TAMA bahkan sudah mendekap di level dasar yakni Rp 50 per saham.

Sementara, dampak aksi jual saham OASA nampaknya tidak terlalu signifikan. Dalam sebulan, saham OASA berhasil naik 30,14%. Namun, merosot tipis 3,55% selama pekan lalu.

Baca Juga: Siaga Resesi, Portofolio Investasi Perlu Defensif di Kuartal Akhir 2022

William menyarankan kepada setiap investor untuk mencari tahu aksi dibalik manajemen suatu perusahaan yang melepas saham. Biasanya, hal tersebut mengindikasikan saham emiten itu kurang bagus.

Teguh mengingatkan bagi investor untuk pandai mencermati kinerja fundamental perusahaan dan profitabilitasnya. Sebab, banyak kasus terjadi dimana harga saham meroket namun berbanding terbalik pada kinerja perusahaan yang lesu.

Hal itu karena adanya aksi memompa harga saham yang memang menyasar investor pemula. Padahal, jika kinerja perusahaan bagus, maka harga saham akan naik sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×