kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 17.960   33,00   0,18%
  • IDX 5.864   -79,24   -1,33%
  • KOMPAS100 761   -9,05   -1,18%
  • LQ45 590   -4,50   -0,76%
  • ISSI 201   -3,89   -1,90%
  • IDX30 329   -2,36   -0,71%
  • IDXHIDIV20 423   -1,46   -0,34%
  • IDX80 87   -0,86   -0,97%
  • IDXV30 116   -0,59   -0,51%
  • IDXQ30 108   -0,38   -0,35%

Rupiah Tertekan Sentimen MSCI dan Inflasi AS, Jumat (16/10) Bisa ke Rp 17.990


Kamis, 15 Oktober 2026 / 17:19 WIB
Rupiah Tertekan Sentimen MSCI dan Inflasi AS, Jumat (16/10) Bisa ke Rp 17.990
ILUSTRASI. INDONESIA-ECONOMY-CURRENCY (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berpotensi bergerak di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Sentimen dari dalam negeri, terutama kekhawatiran investor menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), serta data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi faktor yang dicermati pasar.

Melansir data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,19% secara harian ke level Rp 17.938 per dolar AS pada perdagangan hari Kamis (15/10/2026). Rupiah menjadi mata uang terlemah ketiga diantara mata uang Asia yang lain. 

Sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatatkan pelemahan rupiah sebesar 0,28% dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.898 per dolar AS menjadi Rp 17.948 per dolar AS.

Baca Juga: Low Tuck Kwong Tambah 100 Juta Saham Bayan (BYAN), Beli di Harga Rp 11.200

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah hari ini tidak terlepas dari kondisi pasar saham Indonesia yang menghadapi ketidakpastian menjelang evaluasi MSCI pada November 2026.

Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets diperkirakan hanya sekitar 0,43% pada akhir September 2026. Investor juga mencermati risiko penurunan klasifikasi pasar Indonesia, kelanjutan pembekuan saham, serta perkembangan reformasi pasar modal.

“Keputusan ini akan bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal Indonesia berjalan efektif,” ujar Ibrahim, Kamis (15/20/2026).

Ketidakpastian tersebut berpotensi memengaruhi kepercayaan investor dan mendorong sikap lebih berhati-hati terhadap aset domestik.

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah datang dari data inflasi AS yang menunjukkan kenaikan lebih tinggi dari perkiraan. Indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS pada September 2026 naik 0,6% secara bulanan, meningkat dari 0,4% pada Agustus 2026.

Secara tahunan, inflasi utama AS naik menjadi 3,7% dari 3,4%, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, CPI inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi meningkat 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dari perkiraan 0,2%.

Inflasi inti tahunan juga naik menjadi 2,6% dari 2,4%, melampaui perkiraan sebesar 2,5%. Data tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Merdeka Battery (MBMA) Rogoh Rp 58,18 Miliar Eksplorasi Tambang Nikel, Ini Prospeknya

Selanjutnya, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi AS, yakni indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI), penjualan ritel, klaim awal tunjangan pengangguran, serta pidato lanjutan sejumlah pejabat The Fed.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Jumat (16/10/2026) bergerak dalam kisaran Rp 17.930-Rp 17.990 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×