Reporter: Sugeng Adji Soenarso, Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir bulan, Jumat (28/2).
Tekanan terhadap rupiah semakin kuat seiring dengan penguatan dolar AS sebagai aset safe-haven menjelang penerapan tarif impor baru oleh Presiden AS Donald Trump.
Mengutip Bloomberg, pada pukul 09.04 WIB, rupiah di pasar spot tercatat berada di Rp 16.541 per dolar AS, melemah 0,53% dari posisi sebelumnya di Rp 16.454 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Tertekan pada Perdagangan Jumat (28/2), Simak Sentimen Pemicunya
Ini menjadi pelemahan empat hari berturut-turut sekaligus mencatatkan rekor penurunan terdalam.
Dolar AS mendapatkan dukungan kuat sebagai aset safe-haven, terutama setelah Trump mengonfirmasi bahwa tarif 25% untuk barang impor dari Meksiko dan Kanada serta tambahan 10% bea masuk untuk produk China akan mulai berlaku pada 4 Maret.
Melansir Reuters, Indeks dolar AS naik ke level tertinggi dalam satu minggu, terakhir berada di 107,24, setelah melonjak hampir 0,9% pada Kamis (27/2).
Namun, secara bulanan, indeks ini masih mencatat penurunan 1,1%, yang merupakan kinerja terburuk sejak Agustus.
Pelemahan ini dipicu oleh spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga lebih lanjut, menyusul rilis data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Dipicu Kekhawatiran Investor Asing
"Untuk saat ini, perlambatan pertumbuhan ekonomi AS menjadi faktor utama yang menekan imbal hasil obligasi serta meningkatkan volatilitas di pasar," ujar Rodrigo Catril, analis mata uang senior di National Australia Bank (NAB).
Menurut Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kekhawatiran terkait implementasi Good Corporate Governance (GCG) di Indonesia, terutama setelah meningkatnya kasus korupsi dalam negeri.
"Sentimen ini masih akan berlanjut pada Jumat (28/2) dan berpotensi terus menekan rupiah," ujar Fikri.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Lantaran Investor Asing Khawatir akan Impelentasi GCG Indonesia
Selain itu, aksi sell-off di pasar saham juga turut memperburuk tekanan pada rupiah. Pelemahan ini terjadi setelah Morgan Stanley menurunkan rating MSCI Indonesia, yang memicu arus keluar modal dari aset berisiko.
Dengan tekanan yang masih kuat, Fikri memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 16.320 - Rp 16.520 per dolar AS dalam waktu dekat.
Selanjutnya: Bersiap Perang, Kim Jong Un Serukan Pembangunan Tentara Modern
Menarik Dibaca: Alternatif Wewangian Buatan yang Menenangkan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News