Reporter: Vivit Dewi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia menguat signifikan sepanjang pekan ini, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Eskalasi konflik di Timur Tengah dan gangguan distribusi minyak turut menopang kenaikan harga kedua acuan minyak mentah tersebut.
Mengacu pada data Bloomberg, Jumat (16/10/2026) harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup naik US$ 3,94 atau 3,7% menjadi US$ 109,86 per barel, level tertinggi sejak 19 Mei 2026.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup naik US$ 3,44 atau 3,5% menjadi US$ 101,41 per barel. Ini jadi level tertinggi sejak 17 September 2026.
Sepanjang pekan ini, harga Brent mencatatkan kenaikan sebesar 4,9%, sedangkan WTI melonjak 10,4%.
Baca Juga: Besok, Summarecon Agung (SMRA) Siap Lunasi Obligasi Rp 468 Miliar
Kenaikan harga minyak terjadi saat pasokan global terganggu akibat konflik di Timur Tengah. Serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz memangkas rata-rata aliran minyak harian menjadi 11,62 juta barel hingga 13 Oktober, dari angka dasar 17,15 juta barel.
Pasokan minyak juga menghadapi tekanan dari serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah turun 8,56 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober 2026. Penurunan stok tersebut turut menjadi sentimen yang menopang harga minyak, terutama WTI.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh kombinasi risiko pasokan dan faktor fundamental di pasar Amerika Serikat.
“Pergerakan harga minyak dalam sepekan terakhir dipengaruhi oleh kombinasi eskalasi risiko pasokan dan rilis data inventaris,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Menurut Wahyu, perbedaan laju penguatan kedua acuan minyak tersebut juga mencerminkan dinamika pasar yang berbeda antara Amerika Serikat dan pasar global.
“Perbedaan laju penguatan antara West Texas Intermediate (WTI) dan Brent dalam sepekan terakhir memperlihatkan adanya pergeseran dinamika pasar, di mana faktor fundamental domestik Amerika Serikat bergerak lebih agresif dibandingkan katalis global murni,” jelasnya.
Baca Juga: Laba Darma Henwa (DEWA) Melonjak 114,55%, Analis Sorot Efisiensi Operasional
Di tengah ketidakpastian pasokan, Wahyu memperkirakan harga minyak masih bergerak fluktuatif hingga akhir 2026. Untuk minyak Brent, harga diproyeksikan bergerak dalam rentang US$ 80-US$ 110 per barel, sedangkan WTI diperkirakan berada di kisaran US$ 75-US$ 105 per barel.
Wahyu bilang, pergerakan harga selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan kelancaran distribusi minyak global.
Dalam skenario normalisasi konflik, harga minyak berpeluang bergerak lebih rendah. Sebaliknya, eskalasi konflik yang mengganggu fasilitas produksi dan jalur distribusi energi dapat mendorong harga kembali meningkat.
Untuk Brent, Wahyu memperkirakan, harga berpotensi mencapai US$ 95-US$ 120 per barel apabila eskalasi konflik berlanjut. Sementara itu, dalam skenario serupa, harga WTI berpeluang bergerak di kisaran US$ 85-US$ 110 per barel.
Dengan demikian, risiko gangguan pasokan masih menjadi faktor utama yang perlu dicermati pelaku pasar menjelang akhir tahun. Perkembangan konflik di Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran, serta kondisi persediaan minyak mentah Amerika Serikat akan turut menentukan arah harga kedua acuan minyak tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














