kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 17.960   33,00   0,18%
  • IDX 5.864   -79,24   -1,33%
  • KOMPAS100 761   -9,05   -1,18%
  • LQ45 590   -4,50   -0,76%
  • ISSI 201   -3,89   -1,90%
  • IDX30 329   -2,36   -0,71%
  • IDXHIDIV20 423   -1,46   -0,34%
  • IDX80 87   -0,86   -0,97%
  • IDXV30 116   -0,59   -0,51%
  • IDXQ30 108   -0,38   -0,35%

Rupiah Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS, Efek Domino ke Sektor Riil Patut Diwaspadai


Kamis, 15 Oktober 2026 / 16:23 WIB
Rupiah Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS, Efek Domino ke Sektor Riil Patut Diwaspadai
ILUSTRASI. INDONESIA-ECONOMY-CURRENCY (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berada dalam posisi rentan hingga kian mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS, memicu kecemasan akan munculnya efek domino terhadap inflasi dan pertumbuhan sektor riil domestik.

Melansir data Bloomberg pada Kamis (15/10/2026), rupiah di pasar spot berada di posisi Rp 17.938 per dolar AS atau melemah 0,20% (35 poin), sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatatkan pelemahan sebesar 0,28% atau 50 poin dari hari sebelumnya ke level Rp 17.948 per dolar AS.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai kerentanan rupiah saat ini terjadi akibat gempuran bersamaan dari aksi risk off global, tingginya ekspektasi suku bunga Amerika Serikat (AS), serta maraknya penarikan likuiditas asing dari aset berisiko.

Baca Juga: IHSG Ambruk 1,33% ke 5.863, Top Losers LQ45: DEWA, HRTA, WIFI, Kamis (15/10)

Di tengah pergerakan rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp 17.950 per dolar AS, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun masih tertahan tinggi di sekitar 5,11%, diiringi terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara tajam.

"Level Rp 18.000 menjadi batas psikologis penting, tetapi Bank Indonesia tidak seharusnya menunggu angka itu untuk bertindak," kata Syafruddin kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).

Menurut Syafruddin, pemicu intervensi agresif otoritas moneter lebih tepat didasarkan pada kecepatan pelemahan kurs, kondisi likuiditas pasar yang menipis, serta pelebaran yield Surat Berharga Negara (SBN) dan Credit Default Swap (CDS).

Apabila rupiah menembus level Rp18.000 dengan cepat hingga mendekati rekor Rp 18.190 per dolar AS, risiko overshooting akan semakin meningkat.

Meski demikian, amunisi Bank Indonesia dinilai masih memadai lantaran posisi cadangan devisa per September mencapai US$146,3 miliar, yang setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor.

Tekanan ganda dari merosotnya IHSG dan terdepresiasinya rupiah berisiko menjalar ke perekonomian domestik lewat lonjakan biaya impor bahan baku, energi, dan barang modal.

Kondisi ini berpotensi memicu imported inflation yang mempersempit ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan.

Baca Juga: Rupiah Berisiko Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Cermati Dampaknya ke SBN

"Rantai yang perlu diwaspadai ialah rupiah melemah, biaya impor naik, inflasi meningkat, suku bunga bertahan tinggi, biaya modal naik, investasi melambat, lalu pertumbuhan sektor riil melemah," ujar Syafruddin.

Untuk menahan transmisi risiko tersebut, Bank Indonesia diharapkan terus mengoptimalkan bauran strategi intervensi yang mencakup pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), offshore NDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder.

Langkah stabilisasi terukur lintas instrumen ini sangat krusial untuk mencegah gejolak dan guncangan di pasar keuangan berkembang menjadi tekanan nyata pada sektor riil serta kegiatan investasi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×