Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah di pasar spot mengalami pelemahan cukup signifikan hingga kembali jebol ke atas Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari perdagangan menuju akhir pekan ini.
Melansir data Bloomberg pada Jumat (16/10) pukul 11.50 WIB, rupiah bertengger di level Rp 18.049 per dolar AS, melemah 111 poin atau anjlok 0,62% secara harian.
Kondisi ini menyusul sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah hari ini utamanya dipicu oleh ancaman MSCI untuk menurunkan status indeks saham Indonesia (IHSG).
"Ancaman tersebut memicu aksi jual (sell-off) dan arus keluar dana asing (outflow) di pasar saham domestik, sehingga turut menekan pergerakan rupiah," terang Lukman kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: Inflasi Medis dan Pelemahan Rupiah Bayangi Emiten Rumah Sakit, Intip Prospek Sahamnya
Asal tahu saja, usulan ini berdasarkan hasil penilaian MSCI terhadap transparansi dan tata kelola pasar saham Indonesia, yang belum menunjukkan perbaikan memadai sejak Februari 2026. Sehingga Indonesia dinilai tidak lagi tepat jika masuk kelompok pasar Emerging Market.
Dus, IHSG sudah berdarah-darah pagi ini dan ditutup anjlok 630,77 poin atau 10,76% ke 5.233 pada akhir perdagangan sesi I hari Jumat (16/10/2026).
MSCI sebelumnya menyoroti masalah kelayakan investasi di pasar saham Indonesia dalam evaluasi klasifikasi pasar pada Juni 2026. Sejumlah persoalan yang disorot mencakup struktur kepemilikan saham yang tidak transparan hingga dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.
MSCI mengakui bahwa otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan sejumlah upaya reformasi. Namun, investor institusi, kata MSCI, menilai penerapannya harus konsisten dan menunjukkan dampak nyata secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













