Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih bergerak terbatas pada perdagangan Rabu (8/4/2026), di tengah tekanan sentimen global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), IHSG ditutup melemah 0,26% ke level 6.971,03. Sepanjang perdagangan, indeks sempat bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup di zona merah.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan pergerakan IHSG masih dibayangi ketidakpastian geopolitik global, khususnya terkait konflik di Timur Tengah.
“IHSG berkonsolidasi di tengah pelemahan rupiah dan ketidakpastian geopolitik global,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Cermati Saham Rekomendasi Analis Saat IHSG Terdampak Pelemahan Rupiah dan Perang
Ia menjelaskan, ketidakpastian terkait potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk isu pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, menjadi sentimen negatif bagi pasar.
Di sisi lain, pelemahan rupiah yang berlanjut turut menambah tekanan terhadap IHSG. Pada perdagangan Selasa (7/4/2026), rupiah melemah 0,42% ke level Rp17.105 per dolar AS di pasar spot.
Meski demikian, Alrich melihat sempat terjadi aksi bargain hunting pada sejumlah saham yang sudah terkoreksi cukup dalam.
Secara sektoral, saham sektor industri mencatat pelemahan terbesar, sementara sektor infrastruktur menjadi penopang dengan kenaikan terbatas.
Dari sisi teknikal, ia memperkirakan IHSG masih akan bergerak dalam fase konsolidasi pada kisaran 6.900–7.050.
“Secara teknikal, indikator Stochastic RSI mendekati area overbought, namun pembentukan histogram positif MACD masih berlanjut,” jelasnya.
Alrich memproyeksikan level support IHSG berada di 6.900 dengan resistance di 7.100 dan pivot di 7.000.
Senada, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelaku pasar saat ini masih cenderung bersikap wait and see.
“Para pelaku investor masih bersikap wait and see antara potensi de-eskalasi konflik AS-Iran atau justru terjadi eskalasi lebih lanjut,” ujarnya.
Menurut Nafan, pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang masih memberikan tenggat waktu kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz menambah ketidakpastian di pasar.
Baca Juga: Menanti Dinamika Eskalasi Timur Tengah, Begini Proyeksi Rupiah untuk Rabu (8/4)
Selain faktor global, pelaku pasar juga mencermati hasil tinjauan FTSE yang akan menentukan status pasar modal Indonesia, apakah tetap di kategori emerging market atau berpotensi turun menjadi frontier market.
“Bila tidak terjadi downgrade, maka potensi outflow bisa terhindari,” imbuhnya.
Di sisi lain, Nafan menilai pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.000 per dolar AS menjadi sinyal bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Dengan langkah tersebut, ia memperkirakan tekanan jual investor asing pada saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA berpotensi mulai mereda.
Untuk perdagangan Rabu (8/4/2026), Nafan memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang support 6.892–6.731 dan resistance 7.117–7.222.
Alrich pun merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati pelaku pasar, antara lain ESSA, AKRA, BRPT, CPIN, dan JPFA.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













