Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Rupiah pun kembali mencetak rekor penutupan terburuk untuk dua sesi berturut-turut.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,21% menjadi Rp 17.706 per dolar AS.
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.719 per dolar AS. Level tersebut merupakan posisi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, indeks dolar AS menguat setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran guna membuka ruang negosiasi terkait program nuklir Teheran.
Baca Juga: Laba Summarecon (SMRA) Turun pada Kuartal I-2026, Cek Rekomendasi Sahamnya
“Pasar melihat masih ada peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran, meski ketegangan geopolitik tetap tinggi,” ujar Ibrahim pada Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, konflik di Timur Tengah turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Penutupan efektif Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia membuat investor cenderung memburu aset safe haven seperti dolar AS.
Di sisi lain, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter AS setelah Gedung Putih mengumumkan Kevin Warsh akan menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Pelaku pasar masih menunggu bagaimana arah suku bunga acuan AS di bawah kepemimpinan baru tersebut.
Dari domestik, pelemahan rupiah dinilai mulai menimbulkan tekanan terhadap harga pangan nasional. Ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas membuat depresiasi rupiah berpotensi memicu imported inflation pada semester II-2026.
Ibrahim menjelaskan, komoditas seperti gandum, kedelai, bawang putih, gula, hingga daging sapi masih didominasi impor.
Kondisi ini membuat kenaikan dolar AS langsung meningkatkan biaya impor bahan pangan.
Baca Juga: Rupiah Terburuk Sepanjang Sejarah: Ditutup ke Rp 17.706 Per Dolar AS Hari Ini (19/5)
"Untuk gandum dan kedelai, dampaknya bisa terasa dalam hitungan minggu karena industri pengolahan langsung menghadapi kenaikan biaya bahan baku," kata Ibrahim.
Ia menambahkan, tekanan harga akan lebih cepat terasa pada produk olahan karena terdapat efek lanjutan dari biaya energi, distribusi, kemasan, dan logistik.
Untuk perdagangan Rabu (20/5/2026), rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif, tetapi cenderung melemah di kisaran Rp 17.700-Rp 17.750 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













