Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat tipis pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Meski demikian, laju penguatan masih terbatas di tengah pasar yang mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan sentimen dari Amerika Serikat (AS).
Mengutip Bloomberg, rupiah spot ditutup di level Rp 17.887 per dolar AS, menguat 12 poin atau 0,07% dari perdagangan sebelumnya di level Rp 17.899 per dolar AS.
Penguatan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Rupiah menguat 0,17% ke level Rp 17.880 per dolar AS dari posisi perdagangan Selasa (6/10/2026) sebesar Rp 17.910 per dolar AS.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, posisi cadangan devisa yang masih kuat menjadi salah satu penopang rupiah.
Baca Juga: Arah Bitcoin di Oktober Dibayangi Sentimen The Fed dan Regulasi Kripto
"Cadangan devisa masih menjadi salah satu penopang rupiah. Jumlah itu setara pembiayaan 5,3 bulan impor, di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan," kata Sutopo kepada Kontan, Rabu (7/10/2026).
Sebagai informasi, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$ 146,3 miliar, turun sekitar US$ 200 juta dibandingkan posisi akhir Agustus.
Di sisi lain, sentimen geopolitik masih membayangi pergerakan rupiah. Perkembangan di Timur Tengah berpotensi mendorong permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
"Penguatan rupiah tertahan oleh faktor eksternal, yaitu klaim Houthi atas tiga operasi militer dengan rudal dan drone yang menyasar bandara, fasilitas minyak dan lokasi militer di Arab Saudi. Hubungan AS-Iran juga belum membaik," ujar Sutopo.
Meski demikian, kinerja rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang Asia yang melemah pada perdagangan Rabu. Ke depan, pergerakan dolar AS dan sentimen global masih menjadi perhatian pasar.
Sutopo menilai, indeks dolar AS (DXY) menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati. Selain itu, perkembangan konflik Timur Tengah dan harga minyak juga dapat memengaruhi arah rupiah.
"Kalau sentimen global memburuk, ditambah eskalasi Timur Tengah dan kenaikan harga minyak, rupiah bisa kembali tertekan. Namun, jika tekanan tersebut mereda, rupiah masih punya ruang untuk bertahan," jelasnya.
Untuk perdagangan Kamis (8/10/2026), Sutopo memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.880-Rp 17.930 per dolar AS. Sementara dalam sepekan, rupiah diproyeksikan berada di rentang Rp 17.750-Rp 18.050 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Konsolidasi pada Kamis (8/10), Pasar Cermati Risalah FOMC
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














