Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan pasar kripto pada Oktober 2026 berpotensi dipengaruhi sejumlah sentimen makroekonomi Amerika Serikat (AS), terutama arah kebijakan suku bunga The Fed, data inflasi, serta perkembangan regulasi aset kripto.
Market Specialist Luno Indonesia, Arief Rachman mengatakan, sentimen tersebut akan menjadi perhatian pelaku pasar setelah Bitcoin mencatat kinerja positif pada September.
Bitcoin ditutup di level US$ 83.712 pada 30 September 2026, naik sekitar 6,6% sepanjang September. Secara kuartalan, Bitcoin juga menguat lebih dari 40% pada kuartal III-2026.
Baca Juga: Inilah 10 Unitlink Saham yang Cetak Return Tertinggi per September 2026
"Memasuki Oktober, pasar akan kembali mencermati sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah Bitcoin," ujar Arief dalam riset yang diterima Kontan, Rabu (7/10/2026).
Meski demikian, memasuki Oktober ini Bitcoin mulai kembali volatile. Rabu (7/10/2026) pukul 16.00 WIB harga Bitcoin bertengger di level US$ 84.015. Nilai tersebut melemah 2,4% secara harian, tapi masih mencatatkan kenaikan 1% sepekan terakhir.
Arief bilang, salah satu yang menjadi perhatian investor adalah risalah rapat FOMC September yang akan dirilis pada 7 Oktober. Pasar akan mencari petunjuk mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap arah suku bunga berikutnya.
Selanjutnya, data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI) September yang dijadwalkan rilis pada 14 Oktober juga menjadi katalis penting. Inflasi yang kembali tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, sedangkan inflasi yang melandai dapat menjadi sentimen positif bagi Bitcoin.
Dari sisi regulasi, pelaku pasar juga akan mencermati tenggat komentar publik atas usulan Regulation Crypto Assets dari Securities and Exchange Commission (SEC) pada 20 Oktober. Setelah periode tersebut berakhir, SEC akan meninjau masukan publik sebelum menentukan langkah selanjutnya terhadap aturan tersebut.
Perhatian kemudian beralih ke pertemuan FOMC pada 27-28 Oktober. Keputusan suku bunga akan diumumkan pada 29 Oktober dini hari waktu Indonesia.
Arief menyebut ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada Oktober telah menurun menjadi di bawah 50% per 30 September berdasarkan CME FedWatch.
Baca Juga: Butuh Modal, Saham JARR dan PGUN Milik Pengendali Haji Isam Digadai ke Bank Mandiri
"Jika The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,75%-4,00%, kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar kripto. Sebaliknya, kenaikan suku bunga kedua secara beruntun dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama," jelas Arief.
Selain itu, data awal pertumbuhan ekonomi AS kuartal III dan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September yang dirilis pada 29 Oktober juga akan dicermati pasar. Data tersebut terutama akan memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed pada pertemuan Desember.
Di sisi lain, Bitcoin secara historis memiliki kinerja yang cukup kuat pada Oktober atau dikenal dengan istilah "Uptober". Data CoinGlass menunjukkan Bitcoin menguat pada 10 dari 13 Oktober sepanjang 2013-2025, dengan rata-rata kenaikan 19,92%.
Meski demikian, pola musiman tersebut tidak selalu berulang. Pada Oktober 2025, Bitcoin justru turun 3,69% setelah ancaman tarif 100% terhadap produk China memicu likuidasi posisi margin sekitar US$ 19 miliar dalam 24 jam. "Pengalaman tahun lalu menunjukkan bahwa pola musiman tidak selalu berulang," pungkas Arief.
Di tengah kondisi tersebut, CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis mengatakan, Bitcoin masih dibayangi tekanan jual setelah aset kripto terbesar di dunia tersebut belum mampu menembus sekaligus mempertahankan level US$ 87.000.
Dari sisi teknikal, Yudho menyebut area US$ 84.500 menjadi salah satu level penting dalam pergerakan Bitcoin jangka pendek.
Baca Juga: Investor Kripto Wajib Cermati Empat Sentimen Ini pada Kuartal IV-2026
Level tersebut berada di sekitar retracement Fibonacci 38,2%. Apabila Bitcoin mampu bertahan di area US$ 84.500, peluang rebound untuk kembali menguji level US$ 87.000 masih terbuka.
Sebaliknya, apabila Bitcoin menembus ke bawah level tersebut, risiko koreksi yang lebih dalam berpotensi meningkat menuju US$ 82.600. Yudho mengatakan zona US$ 82.000-US$ 83.000 juga menjadi area downside yang perlu diperhatikan apabila tekanan jual semakin kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














