Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan. Pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah dunia, imbal hasil obligasi global, serta rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Rupiah spot ditutup pada level Rp 17.899 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (9/10/2026), menguat 0,09% dari sehari sebelumnya yang berada di Rp 17.915 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah tercatat telah melemah 0,95%.
Sementara itu, rupiah berdasarkan kurs JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) juga menguat 0,03% secara harian menjadi Rp 17.884 per dolar AS. Pun dalam sepekan terakhir, rupiah JISDOR menguat 0,78%.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,04% ke 6.093 pada Jumat (9/10/2026), INDY, HRTA, AMMN Top Gainers LQ45
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah pada akhir pekan ini ditopang oleh sejumlah sentimen positif, baik dari eksternal maupun domestik.
"Penguatan rupiah tersebut didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia dan pelemahan dolar AS," jelas Lukman kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun setelah lelang obligasi tenor 30 tahun mencatat permintaan yang kuat. Sehingga, yield US Treasury tenor 30 tahun melemah 0,13% secara harian ke level 5,62%.
Dari dalam negeri, data penjualan ritel Indonesia yang tumbuh paling tinggi dalam lima bulan terakhir turut memberikan dukungan bagi rupiah.
Meski demikian, Lukman memandang penguatan rupiah tersebut belum menunjukkan pembentukan tren penguatan yang berkelanjutan.
Pasalnya, harga minyak mentah dunia masih bergerak volatil, sementara sentimen investor terhadap obligasi pemerintah di sejumlah negara, termasuk AS, Eropa, dan Jepang, masih lemah. Menurutnya, kenaikan kembali imbal hasil obligasi global berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah.
Memasuki pekan depan, pelaku pasar masih akan mencermati pergerakan harga minyak mentah dunia dan imbal hasil obligasi global. Dari sisi domestik, tidak terdapat rilis data ekonomi utama yang menjadi perhatian pada pekan depan.
Sementara itu, dari AS, investor akan menantikan rilis data inflasi berdasarkan indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) dan indeks harga produsen atau producer price index (PPI).
Baca Juga: Gandeng CloudSigma, AREA Investasi Infrastruktur AI
Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar AS, yang pada akhirnya turut memengaruhi nilai tukar rupiah.
Dengan demikian, Lukman memproyeksikan dalam rentang sepekan ke depan rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 17.750-Rp 18.050 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














