kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Rupiah Melemah, OECD Soroti Ruang Pelonggaran BI


Rabu, 03 Desember 2025 / 16:21 WIB
Rupiah Melemah, OECD Soroti Ruang Pelonggaran BI
ILUSTRASI. Redam Gejolak-Petugas menghitung uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Bank Mandiri, Jakarta, Senin (29/09/2025). Bank Indonesia menggunakan seluruh instrumen yang ada secara bold, baik di pasar domestik melalui instrumen spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder, maupun di pasar luar negeri secara terus menerus, melalui intervensi NDF. Menkeu Purbaya Y Sadewa yakin upaya BI akan berhasil meredam gejolak rupiah. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/29/09/2025


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/12). Rupiah di pasar spot melemah 0,02% secara harian ke Rp 16.628 per dolar AS. Sedangkan berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah hari ini ditutup di level yang sama dari hari kemarin yakni di Rp 16.632 per dolar AS. 

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menilai Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga kebijakan hingga 50 basis poin. 

“OECD mencatat siklus penurunan suku bunga yang dimulai pada Agustus 2024 telah membawa BI rate turun dari 6,25% menjadi 4,75%,” ujar Ibrahim, Rabu (3/12/2025). 

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Rp 16.628 Per Dolar AS Hari Ini (3/12), Asia Menguat

Meski demikian, penurunan tersebut belum tersalurkan secara penuh ke suku bunga kredit perbankan maupun imbal hasil obligasi korporasi, yang baru turun marginal dibanding awal periode pelonggaran. Pertumbuhan kredit pun disebut masih jauh di bawah rata-rata historis sebelum pandemi dan sebelum siklus pelonggaran dimulai.  

Dengan ekspektasi inflasi yang stabil serta proyeksi permintaan domestik yang berada di sekitar tingkat tren, OECD menilai ruang pelonggaran tambahan masih cukup terbuka. Namun, OECD menekankan pentingnya pendekatan data-dependent.

Hal ini agar BI mampu menyeimbangkan antara kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan kewaspadaan terhadap risiko inflasi. Terutama dari depresiasi rupiah sekitar 3% terhadap dolar Amerika sejak awal tahun. Pelemahan kurs tersebut sebagian disebabkan oleh penyempitan selisih suku bunga dengan negara maju.

Selain itu, rupiah juga dipengaruhi ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan besok (4/12) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.620 – Rp 16.640 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×